
Pesantren Progresif Bumi Shalawat Membentuk Generasi Unggul
January 8, 2025
Shalawat Nabi Muhammad SAW Keutamaan dan Amalan
January 8, 2025Shalawat adalah untaian doa dan pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, sebuah amalan mulia yang telah menjadi denyut nadi spiritual bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia. Lebih dari sekadar bacaan, shalawat merupakan manifestasi cinta, penghormatan, dan kerinduan kepada sosok teladan agung, yang membawa berkah tak terhingga bagi pelantunnya.
Dalam setiap lafaznya, shalawat menyimpan makna mendalam tentang pengakuan atas kenabian dan risalah yang dibawa, sekaligus permohonan agar rahmat dan keselamatan senantiasa tercurah kepada beliau beserta keluarga dan para sahabat. Memahami asal-usul, keutamaan, serta ragamnya akan membuka gerbang menuju pengalaman spiritual yang lebih kaya, mengintegrasikan kedamaian dan keberkahan dalam setiap sendi kehidupan.
Mengenal Lebih Dekat Lantunan Shalawat

Shalawat merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, sebuah ekspresi cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Melantunkan shalawat bukan sekadar rutinitas, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan hati seorang mukmin dengan Rasulullah, membawa kedamaian dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik mulia ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Muslim di seluruh dunia, mewarnai setiap aspek ibadah dan kehidupan sosial dengan nuansa spiritual yang mendalam.
Makna dan Asal-Usul Lafadz Shalawat
Lafadz “shalawat” (صلوات) merupakan bentuk jamak dari kata “shalah” (صلاة) yang secara harfiah berarti doa, pujian, atau keberkahan. Dalam konteks keislaman, makna shalawat memiliki beberapa tingkatan, bergantung pada siapa yang melantunkannya. Jika shalawat datang dari Allah SWT, itu berarti rahmat, ampunan, dan pujian-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika malaikat bershalawat, itu adalah permohonan ampunan dan doa bagi Nabi. Sementara itu, shalawat dari umat manusia adalah bentuk pujian, penghormatan, pengagungan, serta doa untuk keberkahan dan keselamatan Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya.Asal-usul perintah bershalawat bersumber langsung dari Al-Qur’an, yaitu dalam Surah Al-Ahzab ayat 56, yang berbunyi:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan umat Muslim untuk senantiasa bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalawat dalam syariat Islam. Perintah ini tidak hanya mengukuhkan posisi Nabi sebagai utusan Allah yang agung, tetapi juga memberikan kesempatan bagi umatnya untuk senantiasa mengingat, meneladani, dan mendoakan beliau.
Membaca shalawat merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Rasa hormat ini sejatinya juga perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga adab terhadap guru yang telah membimbing kita. Dengan menghormati mereka, kita turut mengamalkan ajaran Nabi, sekaligus melestarikan tradisi kebaikan yang selalu diiringi shalawat.
Keutamaan dan Pahala Melantunkan Shalawat
Melantunkan shalawat bukan hanya sekadar menjalankan perintah agama, tetapi juga mendatangkan berbagai keutamaan dan pahala yang luar biasa bagi pelantunnya. Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi setiap shalawat yang diucapkan, sebagai bentuk kemuliaan bagi Nabi Muhammad SAW dan bagi mereka yang mencintainya. Praktik ini menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya, serta memperoleh keberkahan dalam hidup.Di antara keutamaan bershalawat adalah diampuninya dosa, ditinggikannya derajat, dikabulkannya doa, serta mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW di hari kiamat kelak.
Setiap kali seorang Muslim bershalawat, Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali lipat rahmat, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh kesalahannya, dan mengangkatnya sepuluh derajat.” (HR. An-Nasa’i)
Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah amalan mulia yang menenangkan hati dan pikiran kita. Dari sanalah kita belajar pentingnya menjaga lisan, yang sangat relevan dengan adab berbicara yang baik dan santun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tutur kata yang terpelihara, keberkahan shalawat yang kita panjatkan akan terasa lebih sempurna dan mendalam.
Selain itu, orang yang banyak bershalawat akan menjadi orang yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW di hari kiamat. Shalawat juga dapat menghilangkan kesedihan, melapangkan rezeki, dan menjadi penyebab turunnya rahmat Allah. Keberkahan dari shalawat tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang sangat berharga di akhirat.
Waktu Dianjurkan untuk Bershalawat
Meskipun shalawat dapat dilantunkan kapan saja dan di mana saja, ada beberapa waktu khusus yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak shalawat, di mana keutamaannya menjadi lebih besar. Memahami waktu-waktu ini dapat membantu seorang Muslim untuk memaksimalkan ibadah dan mendapatkan pahala yang lebih berlimpah. Waktu-waktu ini tidak hanya berdasarkan anjuran syariat, tetapi juga mencerminkan momen-momen penting dalam kehidupan seorang Muslim.Berikut adalah beberapa waktu yang dianjurkan untuk bershalawat beserta alasannya:
- Setelah Adzan dan Iqamah: Dianjurkan untuk bershalawat setelah adzan dan iqamah sebagai bentuk doa kepada Nabi Muhammad SAW agar diberikan kedudukan yang tinggi di surga (wasilah), sebagaimana yang diajarkan oleh beliau sendiri.
- Saat dan Setelah Shalat: Bershalawat dalam tasyahhud akhir adalah rukun shalat bagi sebagian mazhab dan sangat dianjurkan. Setelah shalat fardhu, memperbanyak shalawat juga merupakan amalan yang baik untuk mendapatkan keberkahan.
- Hari dan Malam Jumat: Hari Jumat memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak shalawat pada hari dan malam Jumat, karena shalawat yang dibaca akan disampaikan langsung kepada beliau.
- Ketika Menyebut Nama Nabi Muhammad SAW: Setiap kali nama Nabi Muhammad SAW disebut, baik dalam percakapan, ceramah, atau tulisan, sangat dianjurkan untuk segera bershalawat sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan.
- Sebelum Memanjatkan Doa: Membuka doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah adab berdoa yang dapat meningkatkan kemungkinan doa tersebut dikabulkan. Shalawat berfungsi sebagai pengantar yang baik sebelum menyampaikan hajat kepada Allah.
- Ketika Menghadapi Kesulitan atau Musibah: Bershalawat dapat menjadi penenang hati dan sarana untuk memohon pertolongan Allah SWT di tengah cobaan. Keyakinan bahwa shalawat membawa keberkahan dapat meringankan beban dan menumbuhkan harapan.
Deskripsi Visual Ilustrasi Kedamaian Shalawat
Bayangkan sebuah ilustrasi yang menampilkan suasana hening dan penuh kedamaian, menangkap esensi spiritual dari lantunan shalawat. Gambar tersebut berpusat pada siluet seorang individu, mungkin seorang pria atau wanita, yang sedang duduk bersimpuh atau dalam posisi tasyahhud, menghadap ke arah kiblat. Cahaya lembut dan hangat, seperti sinar matahari pagi yang menembus jendela atau cahaya temaram dari lentera tradisional, menyinari sosok tersebut dari samping, menciptakan efek halo yang menenangkan di sekeliling kepala dan bahu.Warna-warna dominan dalam ilustrasi adalah palet lembut dari krem, cokelat muda, hijau zaitun, dan sedikit sentuhan biru langit yang pudar, menciptakan kesan natural dan menenangkan.
Latar belakangnya minimalis, mungkin hanya berupa dinding polos dengan tekstur halus atau ornamen kaligrafi Arab yang samar, menambah nuansa Islami tanpa mengalihkan fokus utama. Tidak ada detail wajah yang jelas, hanya ekspresi ketenangan dan kekhusyukan yang terpancar dari postur tubuh dan aura yang damai. Tangan mungkin terangkat dalam posisi berdoa atau bertasbih, dengan jemari yang lembut. Seluruh komposisi gambar dirancang untuk mengundang perasaan damai, refleksi, dan koneksi spiritual yang mendalam, mencerminkan kedamaian batin yang didapatkan dari zikir dan shalawat.
Ragam Shalawat Populer dan Kisah Inspiratifnya

Dunia shalawat begitu luas dan kaya, menawarkan beragam lantunan yang masing-masing memiliki keindahan serta keutamaannya sendiri. Dari sekian banyak shalawat yang ada, beberapa di antaranya telah dikenal luas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik keagamaan umat Islam di berbagai belahan dunia. Mari kita selami lebih dalam beberapa shalawat populer ini, memahami asal-usulnya, manfaat yang dipercaya, serta kisah-kisah inspiratif yang menyertainya.
Mengenal Lebih Dekat Shalawat-Shalawat Pilihan
Setiap shalawat memiliki sejarah dan konteks penciptaan yang unik, seringkali lahir dari kebutuhan spiritual atau peristiwa penting. Pengamalannya pun bervariasi, disesuaikan dengan tujuan dan keyakinan masing-masing. Berikut adalah beberapa shalawat populer yang sering dilantunkan umat Muslim, lengkap dengan detail singkatnya.
| Nama Shalawat | Asal-Usul Singkat | Manfaat Spesifik | Contoh Pengamalan |
|---|---|---|---|
| Shalawat Nariyah | Dinisbatkan kepada Imam Al-Qurtubi, dikenal juga sebagai Shalawat Tafrijiyah (pembebas kesulitan). Populer diamalkan untuk memohon kemudahan dan penyelesaian masalah yang pelik. | Dipercaya dapat melapangkan rezeki, memudahkan urusan, menghilangkan kesulitan, dan mengabulkan hajat jika diamalkan secara rutin dengan jumlah tertentu. | Dibaca 4444 kali dalam satu majelis atau dibagi dalam beberapa waktu oleh individu untuk hajat tertentu. Sering dibaca saat menghadapi masalah besar. |
| Shalawat Badar | Diciptakan oleh KH. Ali Manshur Siddiq dari Banyuwangi, Jawa Timur, pada tahun 1955. Shalawat ini disusun untuk mengenang perjuangan para syuhada Perang Badar dan membangkitkan semangat umat Islam. | Dipercaya dapat membangkitkan semangat juang, mempererat persatuan umat, dan memohon keberkahan serta pertolongan Allah. Sering dilantunkan dalam acara keagamaan dan perjuangan. | Dilantunkan dalam acara maulid, pengajian, upacara peringatan hari besar Islam, atau sebagai pengiring perjuangan kebangsaan dan keagamaan. |
| Shalawat Ibrahimiyah | Merupakan bagian dari bacaan tahiyat akhir dalam salat, diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Redaksinya terdapat dalam hadis-hadis sahih. | Dianggap sebagai shalawat paling utama karena redaksinya diajarkan langsung oleh Nabi dan memiliki keutamaan yang sangat besar, serta mengantarkan pada kesempurnaan ibadah salat. | Dibaca setiap tahiyat akhir dalam salat wajib maupun sunah. Dapat juga diamalkan di luar salat sebagai dzikir harian untuk mendapatkan keberkahan dan kedekatan dengan Nabi. |
Kisah-Kisah Inspiratif dari Pengamal Shalawat
Banyak individu telah merasakan sentuhan keberkahan dan keajaiban dalam hidup mereka setelah rutin mengamalkan shalawat. Kisah-kisah ini bukan hanya sekadar cerita, melainkan testimoni nyata tentang kekuatan doa, keyakinan, dan dampak positif yang bisa dihadirkan oleh lantunan shalawat dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang ibu rumah tangga di Palembang berbagi pengalaman, “Saya rutin mengamalkan Shalawat Nariyah setiap malam ketika suami saya mengalami kesulitan finansial yang berat. Dengan izin Allah, setelah beberapa minggu, suami saya mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih baik dan kami bisa melunasi utang-utang. Ini adalah bukti nyata bagi kami bahwa shalawat membuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Di sebuah komunitas pesantren di Jawa Tengah, seorang alumni menceritakan, “Setiap kali kami menghadapi tantangan dalam proyek sosial atau merasa semangat mulai kendur, kiai kami selalu mengajak untuk bersama-sama melantunkan Shalawat Badar. Suasana menjadi hidup kembali, semangat kebersamaan kami bangkit, dan kami merasa lebih kuat dalam menghadapi rintangan. Shalawat ini benar-benar mengikat hati dan menyatukan tekad kami.”
Seorang mahasiswa di Yogyakarta, yang dulunya sering merasa cemas dan sulit berkonsentrasi, mengatakan, “Sejak saya mulai konsisten membaca Shalawat Ibrahimiyah setiap selesai salat dan di waktu luang, hati saya terasa lebih tenang dan pikiran saya lebih fokus. Saya merasa lebih mudah memahami pelajaran dan meraih prestasi akademik yang lebih baik. Ini bukan hanya tentang spiritualitas, tapi juga tentang kedamaian batin yang berdampak positif pada seluruh aspek kehidupan saya.”
Harmoni Universal dalam Lantunan Shalawat
Shalawat bukan sekadar bacaan, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan hati umat Islam di seluruh dunia, melampaui batas geografis, etnis, dan budaya. Ia menjadi simbol persatuan dan kecintaan yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.
Bayangkan sebuah ilustrasi yang memukau: Di tengah hamparan lanskap global yang kaya warna, terlihat siluet berbagai masjid ikonik dari berbagai penjuru dunia—mulai dari Masjidil Haram di Mekah, Kubah Batu di Yerusalem, Hagia Sophia di Istanbul, Masjid Agung Delhi, hingga Masjid Hassan II di Maroko, dan Masjid Istiqlal di Jakarta. Di antara bangunan-bangunan megah tersebut, ratusan individu dari beragam etnis dan pakaian tradisional—pria dengan jubah dan sorban khas Timur Tengah, wanita dengan hijab berwarna-warni dari Asia Tenggara, hingga jemaah berkulit gelap dari Afrika—tampak berkumpul.
Mereka semua mengangkat tangan dalam doa atau menundukkan kepala dengan khusyuk, bibir mereka bergerak serempak, melantunkan shalawat dengan ekspresi damai dan penuh penghayatan. Cahaya keemasan yang lembut memancar dari langit, menyinari mereka, menciptakan aura kebersamaan yang mendalam dan spiritual. Suasana hening namun penuh getaran keimanan, menunjukkan bagaimana lantunan shalawat mampu menyatukan hati, bahasa, dan budaya dalam satu tujuan mulia: mengagungkan Nabi dan memohon keberkahan dari Ilahi.
Menghadirkan Shalawat dalam Kehidupan Sehari-hari

Mengintegrasikan shalawat ke dalam rutinitas harian bukan sekadar menambah daftar amalan, melainkan sebuah upaya untuk menghadirkan ketenangan dan keberkahan di setiap langkah. Praktik ini memungkinkan kita untuk senantiasa terhubung dengan teladan agung Rasulullah SAW, menjadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk mengingat dan mendoakan beliau.
Shalawat dapat disisipkan dalam berbagai aktivitas tanpa harus menghentikan kesibukan kita. Mulai dari bangun tidur, sebelum menginjakkan kaki di lantai, lantunkanlah shalawat sebagai pembuka hari yang penuh berkah. Saat bersiap-siap, dalam perjalanan menuju tempat kerja atau sekolah, atau bahkan ketika sedang mengerjakan tugas-tugas ringan, shalawat bisa diucapkan dalam hati. Di sela-sela jam istirahat, setelah menyelesaikan pekerjaan penting, atau ketika menghadapi tantangan, bershalawat dapat menjadi penenang.
Menjelang istirahat malam, setelah semua aktivitas usai, shalawat dapat menjadi penutup hari yang menenangkan, mengantar tidur dengan hati yang damai dan pikiran yang jernih. Kuncinya adalah menjadikannya kebiasaan yang mengalir secara alami, bukan beban.
Membiasakan Shalawat dalam Lingkungan Keluarga dan Komunitas
Membiasakan amalan shalawat di tengah keluarga atau komunitas kecil dapat menciptakan suasana yang lebih harmonis dan spiritual. Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk memperkenalkan dan mengajarkan kebiasaan mulia ini:
- Awali dari Diri Sendiri: Jadilah teladan utama. Ketika anggota keluarga melihat konsistensi Anda dalam bershalawat, mereka akan lebih terinspirasi untuk mengikutinya.
- Ajak dengan Lembut dan Penuh Kasih: Hindari pemaksaan. Jelaskan manfaat dan keindahan bershalawat dengan bahasa yang mudah dipahami, sesuai usia mereka.
- Jadikan Momen Bersama: Tentukan waktu-waktu tertentu untuk bershalawat bersama, misalnya setelah shalat berjamaah, sebelum makan, atau menjelang tidur. Ini akan membangun kebersamaan spiritual.
- Gunakan Media yang Menarik: Untuk anak-anak, gunakan buku cerita bergambar tentang kisah Rasulullah atau lantunan shalawat yang merdu. Untuk orang dewasa, bisa dengan mendengarkan ceramah atau kajian tentang keutamaan shalawat.
- Ciptakan Lingkungan yang Mendukung: Putar rekaman shalawat di rumah sesekali atau sediakan buku-buku shalawat yang mudah dijangkau.
- Rayakan Kemajuan Kecil: Berikan apresiasi ketika ada anggota keluarga yang mulai terbiasa bershalawat, sekecil apapun itu, untuk memotivasi mereka.
Manfaat Bershalawat untuk Ketenangan dan Peningkatan Spiritual
Mengamalkan shalawat secara rutin membawa dampak positif yang mendalam bagi kehidupan seseorang, baik dari sisi ketenangan batin, kesehatan mental, maupun peningkatan spiritual. Secara batin, shalawat adalah jembatan penghubung antara hamba dengan Rasulullah SAW, yang secara otomatis mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hubungan yang kuat ini melahirkan rasa aman dan tenteram, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang selalu mendampingi.
Dalam konteks kesehatan mental, bershalawat dapat menjadi terapi alami untuk mengurangi stres dan kecemasan. Fokus pada lafal dan makna shalawat mengalihkan pikiran dari hiruk pikuk masalah duniawi, menciptakan momen relaksasi yang mendalam. Ini membantu menenangkan sistem saraf, mengurangi tekanan darah, dan meningkatkan kualitas tidur. Dengan pikiran yang lebih tenang, seseorang cenderung lebih mampu mengelola emosi dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih sabar dan optimis.
Dari segi peningkatan spiritual, bershalawat adalah bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Amalan ini membuka pintu rahmat dan keberkahan, serta menjadi salah satu cara untuk mendapatkan syafaat beliau di akhirat kelak. Rutinitas bershalawat memperkuat iman, menumbuhkan rasa syukur, dan mendorong seseorang untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas ibadah dan perilaku sehari-hari.
Etika dalam bershalawat adalah memulainya dengan niat tulus karena Allah dan kecintaan kepada Rasulullah SAW, bukan untuk tujuan duniawi semata. Lakukanlah dengan khusyuk, menjaga adab, dan menghormati keagungan Nabi. Penting untuk meluruskan pemahaman bahwa shalawat bukanlah pengganti ibadah wajib seperti shalat atau puasa, melainkan amalan pelengkap yang memperkaya spiritualitas. Bershalawat tidak harus selalu dengan suara keras atau dalam jumlah yang fantastis untuk dianggap sah, melainkan keikhlasan dan konsistensi adalah kuncinya. Tidak ada pula larangan untuk bershalawat dalam hati di tengah kesibukan, justru itu adalah bentuk zikir yang mulia.
Gambaran Visual Ketenangan dalam Kesibukan, Shalawat
Bayangkan sebuah ilustrasi yang menampilkan seorang individu di tengah aktivitas harian yang padat. Mungkin ia sedang duduk di kereta komuter yang ramai, dengan laptop di pangkuannya dan tas di sampingnya. Atau bisa jadi ia berada di meja kerja yang penuh tumpukan dokumen, dengan telepon di dekatnya. Wajahnya, meskipun dikelilingi oleh hiruk pikuk atau tumpukan tugas, memancarkan ketenangan yang luar biasa.
Matanya mungkin sedikit terpejam atau menatap kosong ke kejauhan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Postur tubuhnya rileks, bahunya tidak tegang, seolah-olah ia sedang menarik napas dalam-dalam dan melepaskan segala beban. Ada aura damai yang terpancar dari dirinya, seolah-olah di tengah kesibukan itu, jiwanya sedang sibuk dengan lantunan shalawat yang menenangkan, menciptakan oase ketenangan di dalam dirinya yang tak terpengaruh oleh kebisingan di sekitarnya.
Simpulan Akhir

Pada akhirnya, mengamalkan shalawat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang memupuk ketenangan batin, kesehatan mental, dan peningkatan spiritualitas yang berkelanjutan. Dari mengenali makna dan ragamnya hingga mengintegrasikannya dalam setiap detik kehidupan, shalawat menawarkan jembatan menuju kedekatan dengan Sang Pencipta melalui kecintaan kepada Rasulullah SAW. Mari jadikan shalawat sebagai napas kehidupan, yang senantiasa menyinari langkah dengan keberkahan dan kedamaian abadi.
Daftar Pertanyaan Populer
Apa hukum bershalawat?
Hukum bershalawat adalah wajib bagi setiap muslim setidaknya sekali seumur hidup, dan sunah muakkadah (sangat dianjurkan) dalam setiap kesempatan, terutama saat nama Nabi Muhammad SAW disebut.
Apakah wanita haid boleh bershalawat?
Ya, wanita haid boleh bershalawat, baik secara lisan maupun dalam hati, karena shalawat bukan termasuk bacaan Al-Qur’an atau shalat yang membutuhkan kesucian dari hadas besar.
Apa bedanya shalawat dengan doa biasa?
Shalawat adalah bentuk doa spesifik yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk memohon rahmat dan keselamatan baginya, sementara doa biasa adalah permohonan kepada Allah SWT untuk diri sendiri atau orang lain. Bershalawat juga merupakan bentuk ibadah yang memiliki keutamaan tersendiri.
Bolehkah bershalawat tanpa berwudhu?
Ya, bershalawat boleh dilakukan tanpa berwudhu, kecuali jika shalawat tersebut dibaca dalam shalat atau menyentuh mushaf Al-Qur’an yang memuat ayat-ayat shalawat.
Apakah ada shalawat yang tidak boleh dibaca?
Secara umum, semua shalawat yang sesuai dengan syariat Islam dan tidak mengandung unsur kesyirikan atau bid’ah yang menyesatkan boleh dibaca. Namun, ada beberapa shalawat yang mungkin tidak populer atau diragukan sanadnya, sebaiknya dipilih shalawat yang ma’tsur (berasal dari Nabi) atau yang telah disepakati ulama.



