
Kunci Gitar Uje Shalawat Badar Panduan Lengkap Menguasai
March 4, 2026
Shalawat Nahdlatain Sejarah Keutamaan dan Amalan
March 4, 2026Shalawat yang paling disukai Allah merupakan sebuah pencarian spiritual yang mendalam bagi setiap Muslim. Amalan mulia ini bukan sekadar lantunan doa, melainkan jembatan penghubung antara hamba dan Rasulullah SAW, membawa keberkahan serta pahala yang tak terhingga. Memahami esensi dan bentuk-bentuk shalawat yang dianjurkan menjadi kunci untuk meraih keridaan Ilahi.
Melalui shalawat, kita tidak hanya mengungkapkan kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga memohon syafaat dan keberkahan bagi diri sendiri. Pembahasan ini akan mengupas tuntas makna, keutamaan, bentuk-bentuk utama, serta adab bershalawat yang benar, membimbing setiap individu untuk mengamalkan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Memahami Makna dan Keutamaan Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah salah satu amalan mulia yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia bukan sekadar ucapan, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan seorang hamba dengan kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Dengan memahami esensi dan keutamaannya, seorang Muslim dapat merasakan kedalaman makna di balik setiap lafal shalawat yang terucap, membuka pintu rahmat dan keberkahan dalam kehidupan.
Pengertian Mendalam Shalawat dalam Syariat Islam
Shalawat secara harfiah berarti doa atau pujian. Namun, dalam konteks syariat Islam, shalawat memiliki makna yang lebih spesifik dan mendalam. Ketika Allah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, itu berarti Allah melimpahkan rahmat, ampunan, dan kemuliaan kepada beliau. Sementara itu, ketika seorang Muslim bershalawat kepada Nabi, itu adalah bentuk doa permohonan agar Allah senantiasa melimpahkan rahmat, berkah, dan keselamatan kepada Rasulullah SAW, serta keluarganya, para sahabat, dan seluruh umatnya.
Tujuan utama bershalawat adalah sebagai wujud kecintaan, penghormatan, pengagungan, dan pengakuan atas kerasulan Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengikuti perintah Allah SWT.
Dalil Al-Quran dan Hadis tentang Keutamaan Shalawat
Keutamaan bershalawat ditegaskan secara eksplisit dalam berbagai sumber hukum Islam, baik Al-Quran maupun Hadis Nabi. Dalil-dalil ini menjadi landasan kuat bagi umat Muslim untuk senantiasa melanggengkan amalan mulia ini.Berikut adalah beberapa dalil yang menunjukkan pentingnya dan keutamaan bershalawat:
-
Firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” Ayat ini secara tegas memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, mengikuti teladan Allah dan para malaikat-Nya. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah.
-
Hadis Riwayat Muslim tentang balasan shalawat:
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” Hadis ini menjelaskan bahwa setiap satu shalawat yang diucapkan seorang hamba akan dibalas dengan sepuluh kali shalawat dari Allah, yang berarti sepuluh kali lipat rahmat, ampunan, dan keberkahan. Ini adalah janji yang luar biasa dari Allah bagi umat yang mencintai Nabi-Nya.
-
Hadis Riwayat Tirmidzi tentang kedekatan dengan Nabi di Hari Kiamat:
Membaca shalawat yang paling disukai Allah, seperti shalawat Ibrahimiyah, membawa keutamaan besar dalam mendekatkan diri pada-Nya. Keberkahan serupa juga bisa dirasakan saat kita memahami cara mengamalkan surat al kautsar dengan istiqamah. Kedua amalan mulia ini, baik shalawat maupun Al Kautsar, merupakan bentuk penghambaan yang dapat melipatgandakan pahala serta memperkuat iman kita.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku.” Hadis ini mengindikasikan bahwa memperbanyak shalawat akan menjadi sebab kedekatan seorang Muslim dengan Rasulullah SAW di akhirat, suatu kehormatan yang sangat didambakan oleh setiap Muslim.
Manfaat Spiritual dan Duniawi Mengamalkan Shalawat
Mengamalkan shalawat secara rutin membawa segudang manfaat, baik dalam aspek spiritual maupun kehidupan duniawi seorang Muslim. Manfaat-manfaat ini menjadi motivasi tambahan bagi umat Islam untuk senantiasa membasahi lisan mereka dengan shalawat.Beberapa manfaat yang dapat dirasakan meliputi:
-
Pengampunan Dosa dan Peningkatan Derajat: Bershalawat adalah salah satu cara untuk menghapus dosa-dosa kecil dan mengangkat derajat seorang Muslim di sisi Allah SWT. Setiap shalawat yang diucapkan akan menjadi sebab diampuninya kesalahan dan ditinggikannya kedudukan di akhirat.
-
Mendapatkan Syafaat Nabi Muhammad SAW: Dengan memperbanyak shalawat, seorang Muslim berharap mendapatkan syafaat atau pertolongan dari Nabi Muhammad SAW di Hari Kiamat, terutama ketika umat manusia berada dalam kesulitan yang besar.
-
Ketenangan Hati dan Jiwa: Mengucapkan shalawat dengan penuh penghayatan dapat mendatangkan ketenangan dan kedamaian dalam hati. Ia menjadi penawar bagi kegelisahan dan kesedihan, menghubungkan hati dengan sumber rahmat ilahi.
-
Kelancaran Urusan dan Keberkahan Hidup: Banyak pengalaman spiritual menunjukkan bahwa orang yang rutin bershalawat seringkali mendapati urusan-urusannya dipermudah dan hidupnya dipenuhi keberkahan. Ini adalah manifestasi dari rahmat Allah yang dilimpahkan karena kecintaan hamba kepada Nabi-Nya.
Jembatan Kasih Sayang Hamba dan Rasulullah SAW
Shalawat tidak hanya sekadar zikir lisan, tetapi merupakan ekspresi mendalam dari cinta dan kerinduan seorang hamba kepada Nabi Muhammad SAW. Ia adalah ikatan batin yang tak terpisahkan, menjadikannya sebuah jembatan kasih sayang yang kokoh.Seorang ulama terkemuka pernah menyatakan:
“Shalawat adalah benang emas yang merajut kasih sayang antara hati seorang mukmin dengan kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Setiap untaian shalawat yang terucap adalah bisikan cinta yang menembus dimensi, membawa kita lebih dekat kepada beliau, dan menjadikan kita layak menerima curahan rahmat-Nya.”
Bentuk-bentuk Shalawat yang Dianjurkan dan Paling Utama di Sisi Allah

Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah amalan mulia yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT. Namun, dalam lautan bentuk shalawat yang beragam, sebagian memiliki kedudukan istimewa karena redaksi dan keutamaannya secara eksplisit disebutkan dalam sumber-sumber ajaran Islam yang sahih. Memahami bentuk-bentuk shalawat ini membantu umat Muslim untuk mengamalkan ibadah yang paling afdal dan mendalam. Artikel ini akan mengulas beberapa shalawat utama serta bagaimana praktik shalawat telah mewarnai perjalanan peradaban Islam.
Shalawat yang Disebutkan dalam Hadis Sahih
Dalam khazanah Islam, terdapat beberapa redaksi shalawat yang secara langsung diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya. Shalawat-shalawat ini memiliki keutamaan khusus karena kemurnian sumbernya dan diyakini membawa pahala serta keberkahan yang berlipat ganda.
-
Shalawat Ibrahimiyah
Shalawat Ibrahimiyah adalah bentuk shalawat yang paling sempurna dan utama, bahkan dianjurkan untuk dibaca dalam setiap shalat pada tasyahud akhir. Redaksinya diriwayatkan dalam banyak hadis sahih, termasuk Bukhari dan Muslim, ketika para sahabat bertanya kepada Nabi SAW tentang bagaimana cara bershalawat kepadanya.
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid.”
(Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.)
Keutamaan shalawat ini sangat besar karena ia adalah bentuk shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi SAW dan menggabungkan doa rahmat serta keberkahan kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, sekaligus mengaitkannya dengan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang juga mulia di sisi Allah.
-
Shalawat Singkat dari Hadis
Selain Shalawat Ibrahimiyah, terdapat juga bentuk shalawat yang lebih singkat namun tetap memiliki dasar dari sunah Nabi SAW. Salah satunya adalah ucapan sederhana yang diriwayatkan dalam beberapa hadis.
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”
(Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad.)
Meskipun singkat, shalawat ini tetap merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan Nabi-Nya. Keutamaannya terletak pada kemudahan pengucapan sehingga dapat diamalkan kapan saja dan di mana saja, menjadikannya sarana dzikir yang kontinu.
Perbandingan Beberapa Bentuk Shalawat Utama
Umat Islam di berbagai belahan dunia mengenal beragam bentuk shalawat, masing-masing dengan keunikan redaksi dan keutamaannya. Penting untuk memahami latar belakang dan sumber dari setiap shalawat untuk menghargai kekayaan tradisi Islam. Berikut adalah perbandingan beberapa shalawat yang dikenal luas:
| Bentuk Shalawat | Sumber | Redaksi Singkat | Keutamaan |
|---|---|---|---|
| Shalawat Ibrahimiyah | Hadis Sahih (Bukhari, Muslim) | “Allahumma shalli ‘ala Muhammad…” | Paling sempurna, dianjurkan dalam shalat wajib, pahala besar, doa yang diajarkan langsung oleh Nabi. |
| Shalawat Nariyah | Formulasi Ulama (dikaitkan dengan Imam Al-Qurtubi) | “Allahumma shalli shalatan kamilatan…” | Diyakini dapat menghilangkan kesusahan, memenuhi hajat, dan mendatangkan keberkahan berdasarkan pengalaman dan keyakinan ulama. |
| Shalawat Badar | Karya Ulama (Habib Ali bin Husain Al-Attas) | “Shalatullah salamullah ‘ala Thaha Rasulillah…” | Mengingat perjuangan Nabi dan para sahabat dalam Perang Badar, sarana mendekatkan diri kepada Allah dan Nabi, sering dilantunkan dalam acara keagamaan. |
Perkembangan Amalan Shalawat dalam Peradaban Islam
Amalan shalawat tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga telah berkembang menjadi bagian integral dari budaya dan seni dalam berbagai peradaban Islam. Dari masa ke masa, ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW melalui shalawat mengambil bentuk yang beragam dan indah.Pada masa awal Islam, shalawat lebih banyak diamalkan dalam bentuk dzikir personal dan bagian dari shalat. Namun, seiring dengan meluasnya wilayah Islam dan berkembangnya kebudayaan, praktik shalawat mulai meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan.
Di era Dinasti Abbasiyah, misalnya, muncul banyak penyair dan ulama yang menggubah puisi-puisi pujian (qasidah) untuk Nabi, yang seringkali di dalamnya terkandung redaksi shalawat yang indah. Karya-karya seperti “Qasidah Burdah” oleh Imam Al-Bushiri menjadi sangat populer dan dilantunkan di berbagai majelis.Memasuki periode Kekhalifahan Utsmaniyah, Mamluk, dan Mughal, shalawat tidak hanya menjadi lisan, tetapi juga visual. Kaligrafi indah yang berisi shalawat menghiasi masjid-masjid, istana, dan rumah-rumah.
Arsitektur Islam seringkali menyertakan ukiran shalawat sebagai bentuk penghormatan. Praktik mawlid (perayaan kelahiran Nabi) menjadi ajang di mana shalawat dilantunkan secara massal, seringkali diiringi musik dan tarian sufistik yang sarat makna.Dalam tradisi tarekat atau tasawuf, shalawat menjadi bagian penting dari wirid dan dzikir harian. Para sufi merangkai shalawat dalam jumlah tertentu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Nabi.
Dzikir jama’i (dzikir bersama) di zawiyah atau majelis-majelis tarekat seringkali diwarnai dengan lantunan shalawat yang ritmis dan penuh kekhusyukan, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.Hingga era modern, amalan shalawat terus hidup dan berkembang. Melalui media massa, rekaman audio, dan platform digital, shalawat dapat diakses dan dilantunkan oleh jutaan umat Muslim di seluruh dunia. Grup-grup nasyid dan hadrah terus berinovasi dalam menyajikan shalawat dengan aransemen yang menarik, menjangkau generasi muda tanpa menghilangkan esensi spiritualnya.
Dari kesederhanaan ucapan hingga kemegahan seni, shalawat tetap menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan hati umat Muslim dengan sosok Nabi Muhammad SAW yang agung.
Adab dan Niat Bershalawat agar Mendapat Keridhaan Ilahi

Bershalawat adalah salah satu ibadah yang sangat mulia, sebuah jembatan penghubung antara seorang hamba dengan Rasulullah SAW, serta jalan untuk meraih keridhaan Allah SWT. Namun, agar shalawat yang kita panjatkan tidak hanya sekadar ucapan lisan, melainkan menjadi wirid yang berbobot dan diterima, diperlukan pemahaman serta pengamalan adab dan niat yang benar. Keduanya merupakan fondasi penting yang menopang kualitas spiritual dari setiap lantunan shalawat.
Mengintegrasikan adab dan niat dalam praktik bershalawat akan mengangkat nilai ibadah tersebut dari rutinitas biasa menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Dengan adab yang terjaga dan niat yang tulus, setiap shalawat yang terucap akan membawa keberkahan dan mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta serta Rasul-Nya.
Adab Fisik dalam Bershalawat
Menjaga adab fisik saat bershalawat menunjukkan rasa hormat kita kepada Rasulullah SAW dan juga kepada Allah SWT yang telah memerintahkan kita untuk bershalawat. Adab-adab ini membantu menciptakan suasana khusyuk dan kesadaran dalam beribadah. Berikut adalah beberapa adab fisik yang sebaiknya diperhatikan:
-
Kebersihan Diri dan Tempat: Pastikan tubuh, pakaian, dan tempat bershalawat dalam keadaan bersih dan suci dari najis. Berwudu adalah langkah awal yang sangat dianjurkan, bahkan jika tidak dalam kondisi salat, sebagai bentuk persiapan spiritual dan penghormatan.
-
Menghadap Kiblat: Meskipun tidak wajib seperti salat, menghadap kiblat saat bershalawat merupakan adab yang baik. Arah kiblat melambangkan kesatuan umat dan menjadi titik fokus dalam beribadah, membantu mengarahkan konsentrasi dan niat.
-
Posisi Tubuh yang Tenang dan Penuh Hormat: Duduk dengan tenang, rapi, dan penuh adab, seolah-olah sedang berada di hadapan Rasulullah SAW. Hindari posisi yang terlalu santai atau tidak sopan. Ketenangan fisik akan mempermudah ketenangan hati dan pikiran.
-
Menjaga Suara dan Ekspresi: Melantunkan shalawat dengan suara yang lembut, tidak terlalu keras atau tergesa-gesa, serta penuh penghayatan. Ekspresi wajah yang tenang dan khusyuk juga mencerminkan kedalaman niat.
Esensi Niat yang Benar saat Bershalawat, Shalawat yang paling disukai allah
Niat adalah ruh dari setiap amal perbuatan, termasuk bershalawat. Niat yang tulus dan benar akan mengarahkan shalawat kita menuju keridhaan Ilahi. Saat bershalawat, niat utama kita haruslah mencakup beberapa aspek penting yang mencerminkan kedalaman iman dan kecintaan kita:
-
Bentuk Penghormatan kepada Rasulullah SAW: Niatkan shalawat sebagai ungkapan penghormatan tertinggi kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai utusan Allah yang membawa risalah kebenaran. Ini adalah pengakuan atas kedudukan mulia beliau di sisi Allah dan jasa-jasanya dalam membimbing umat manusia.
Mencari tahu shalawat yang paling disukai Allah tentu jadi perhatian utama umat Muslim. Agar doa dan shalawat kita semakin diterima, memahami adab berdoa rumaysho adalah langkah bijak. Adab yang benar akan meningkatkan kualitas ibadah kita, termasuk saat melafalkan shalawat kepada Rasulullah SAW.
-
Kecintaan Mendalam kepada Rasulullah SAW: Shalawat harus diniatkan sebagai ekspresi cinta yang tulus dan mendalam kepada Rasulullah SAW. Cinta ini mendorong kita untuk senantiasa mengingat beliau, meneladani akhlaknya, dan mendoakan keselamatan serta kemuliaan baginya.
-
Permohonan Syafaat: Sertakan niat untuk memohon syafaat (pertolongan) Rasulullah SAW di hari kiamat kelak. Dengan bershalawat, kita berharap mendapatkan perhatian dan dukungan beliau di hadapan Allah SWT, sehingga dosa-dosa kita diampuni dan kita dimasukkan ke dalam surga.
-
Ketaatan kepada Perintah Allah SWT: Niatkan shalawat sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab: 56) yang menganjurkan kita untuk bershalawat kepada Nabi. Ini adalah wujud penyerahan diri dan kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya.
Tips Praktis Menjaga Fokus dan Konsentrasi Bershalawat
Menjaga fokus dan konsentrasi selama bershalawat seringkali menjadi tantangan, terutama di tengah kesibukan pikiran. Namun, dengan beberapa tips praktis, kita dapat meningkatkan kualitas kehadiran hati dalam setiap lantunan shalawat. Tabel berikut menyajikan beberapa strategi efektif:
| Tips Praktis | Penjelasan Singkat | Manfaat | Contoh Implementasi |
|---|---|---|---|
| Membayangkan Sosok Rasulullah SAW | Hadirkannya gambaran fisik dan akhlak mulia Rasulullah SAW dalam benak saat bershalawat. | Meningkatkan rasa cinta, hormat, dan koneksi spiritual yang lebih dalam. | Fokus pada deskripsi fisik Nabi dari riwayat shahih atau akhlaknya yang agung. |
| Memahami Terjemahan Shalawat | Ketahui arti setiap lafaz shalawat yang diucapkan, baik dalam bahasa Arab maupun terjemahannya. | Memperdalam penghayatan makna dan tujuan dari shalawat yang dilantunkan. | Pelajari terjemahan dan tafsir singkat dari shalawat yang sering dibaca. |
| Menghayati Makna dan Pesan | Rasakan setiap kata yang diucapkan, pahami doanya, dan biarkan meresap ke dalam hati. | Menghadirkan kesadaran penuh dan mencegah pikiran melayang. | Ucapkan shalawat dengan tempo yang lambat dan jeda untuk meresapi maknanya. |
| Pilih Waktu dan Tempat Tenang | Lakukan shalawat di waktu dan tempat yang minim gangguan agar lebih fokus. | Menciptakan lingkungan kondusif untuk konsentrasi dan kekhusyukan. | Bershalawat setelah salat fardhu, di sepertiga malam terakhir, atau di sudut rumah yang hening. |
Nasihat Spiritual tentang Wirid Shalawat Harian
Membiasakan shalawat sebagai wirid harian yang penuh kesadaran adalah kunci untuk meraih manfaat spiritual yang maksimal. Seorang mursyid atau guru spiritual seringkali menekankan pentingnya kehadiran hati dalam setiap zikir. Mereka mengajarkan bahwa wirid bukanlah sekadar hitungan, melainkan perjalanan batin yang mendalam. Berikut adalah nasihat yang sering disampaikan:
“Wahai muridku, jadikanlah shalawat itu sebagai nafas kedua dalam hidupmu. Bukan sekadar hitungan jari atau lantunan lisan tanpa makna, melainkan sebuah dialog hati yang tulus dengan kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Hadirkan hatimu, rasakan getaran cinta, dan biarkan setiap shalawat mengalirkan cahaya ke dalam jiwamu. Ketika engkau bershalawat dengan kesadaran penuh, seolah-olah Rasulullah SAW hadir di hadapanmu, maka setiap shalawatmu akan menjadi permata yang bersinar di sisi Allah, mengundang rahmat dan keberkahan yang tak terhingga.”
Penutupan Akhir: Shalawat Yang Paling Disukai Allah

Dengan memahami secara komprehensif makna, keutamaan, berbagai bentuk, serta adab bershalawat yang benar, setiap Muslim diharapkan dapat mengamalkan ibadah ini dengan hati yang tulus dan penuh kesadaran. Shalawat bukan hanya wirid lisan, melainkan manifestasi cinta yang mendalam kepada Rasulullah SAW, yang pada gilirannya akan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga amalan shalawat yang rutin dan penuh khusyuk senantiasa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual, membawa keberkahan di dunia dan syafaat di akhirat.
Area Tanya Jawab
Apakah wajib bershalawat setiap hari?
Bershalawat secara umum sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan besar, namun tidak semua bentuk shalawat bersifat wajib setiap hari. Beberapa ulama menyebutkan kewajiban bershalawat dalam tasyahud akhir shalat. Di luar itu, mengamalkannya secara rutin adalah sunah muakkadah (sangat dianjurkan) untuk meraih pahala dan keberkahan.
Bolehkah bershalawat dalam hati atau tanpa suara?
Ya, bershalawat boleh dilakukan dalam hati atau tanpa suara, terutama ketika berada di tempat atau situasi yang tidak memungkinkan untuk melafazkannya dengan keras. Yang terpenting adalah kehadiran hati, niat tulus, dan kekhusyukan dalam mengingat dan mendoakan Nabi Muhammad SAW.
Adakah waktu-waktu tertentu yang lebih utama untuk bershalawat?
Meskipun shalawat baik diamalkan kapan saja, beberapa waktu dianggap lebih utama, seperti hari Jumat, setelah azan, saat mendengar nama Nabi Muhammad SAW disebut, serta pada sepertiga malam terakhir. Namun, bershalawat secara konsisten setiap saat adalah amalan yang sangat dianjurkan.
Bagaimana jika tidak hafal redaksi shalawat dalam bahasa Arab?
Jika tidak hafal redaksi shalawat dalam bahasa Arab, seseorang dapat bershalawat dengan lafaz sederhana seperti “Allahumma shalli ‘ala Muhammad” atau dengan terjemahan maknanya dalam bahasa yang dipahami, asalkan niat dan kekhusyukannya tetap terjaga. Belajar menghafal redaksi aslinya tentu lebih utama.



