
Shalat Sunnah Ghairu Muakkad Mengenal Jenis dan Hikmahnya
October 8, 2025
Shalat Sunnah Qabliyah dan Badiyah Pelengkap Ibadah
October 8, 2025Shalat sunnah Rajab merupakan salah satu amalan ibadah yang sering dibicarakan umat Islam saat memasuki bulan Rajab, bulan yang dimuliakan dalam kalender Hijriah. Ibadah ini menarik perhatian karena kekhususannya, memicu diskusi tentang dasar hukum, tata cara pelaksanaan, hingga berbagai mitos yang menyertainya.
Memahami shalat sunnah Rajab secara komprehensif membutuhkan penelusuran mendalam terhadap definisi, waktu, serta perbedaannya dengan shalat sunnah lainnya. Selain itu, penting juga untuk meninjau dalil-dalil yang relevan, pandangan ulama fikih terkemuka, dan tata cara pelaksanaannya yang benar, agar umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan penuh keyakinan dan sesuai tuntunan syariat.
Pengenalan Shalat Sunnah Rajab

Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan dalam kalender Hijriah. Keistimewaan bulan ini seringkali menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, salah satunya melalui pelaksanaan shalat sunnah. Shalat sunnah Rajab hadir sebagai salah satu bentuk amalan yang dilakukan untuk meraih keberkahan dan pahala di bulan yang penuh kemuliaan ini, mencerminkan semangat spiritualitas yang mendalam.
Makna dan Kedudukan Shalat Sunnah Rajab
Shalat sunnah Rajab adalah ibadah shalat tambahan yang tidak diwajibkan, namun sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan Rajab. Pelaksanaannya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan, serta mengharapkan keberkahan yang melimpah di bulan suci ini. Meskipun secara umum semua ibadah sunnah di bulan Rajab sangat dianjurkan, terdapat beberapa bentuk shalat yang secara spesifik dikaitkan dengan bulan ini, menjadikannya amalan yang khas.
Penting untuk dipahami bahwa kedudukan shalat ini adalah sunnah, artinya pelaksanaannya mendatangkan pahala, namun meninggalkannya tidak berdosa.
Waktu-Waktu Utama Pelaksanaan
Pelaksanaan shalat sunnah Rajab seringkali dikaitkan dengan beberapa waktu khusus dalam bulan Rajab, meskipun secara umum ibadah sunnah bisa dilakukan kapan saja selama bulan tersebut. Waktu-waktu ini diyakini memiliki keutamaan tersendiri untuk mengumpulkan pahala dan keberkahan. Berikut adalah beberapa waktu yang sering disebutkan dalam tradisi pelaksanaan shalat sunnah Rajab:
- Malam Pertama Bulan Rajab: Dimulainya bulan Rajab sering dianggap sebagai momen yang baik untuk memulai ibadah khusus, termasuk shalat sunnah.
- Malam Nisfu Rajab (Pertengahan Bulan Rajab): Malam tanggal 15 Rajab juga menjadi salah satu waktu yang banyak diyakini memiliki keistimewaan untuk melaksanakan shalat sunnah dan amalan lainnya.
- Malam Kamis Pertama Bulan Rajab (Laylatul Raghaib): Beberapa tradisi menyebutkan shalat khusus yang dikenal sebagai Shalat Raghaib pada malam Jumat pertama di bulan Rajab, meskipun status keotentikannya masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.
- Malam-malam Ganjil Lainnya: Selain waktu-waktu di atas, sebagian umat Islam juga memilih untuk melaksanakan shalat sunnah pada malam-malam ganjil lainnya di bulan Rajab, seperti malam ke-7, ke-21, atau ke-27.
Pelaksanaan shalat sunnah pada waktu-waktu ini biasanya tidak memiliki tata cara yang sangat berbeda dari shalat sunnah pada umumnya, namun niat khusus untuk bulan Rajab yang membedakannya.
Karakteristik Pembeda dari Shalat Sunnah Lain
Meskipun secara umum semua shalat sunnah memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah, shalat sunnah Rajab memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari shalat sunnah lainnya seperti shalat Dhuha, Tahajjud, atau shalat Rawatib. Perbedaan ini terletak pada aspek waktu, kekhususan, dan kadang kala pada derajat penekanan dalam sumber-sumber syariat.
| Aspek Pembeda | Shalat Sunnah Rajab | Shalat Sunnah Umum (Contoh: Dhuha, Tahajjud) |
|---|---|---|
| Waktu Pelaksanaan | Terikat pada bulan Rajab, dengan beberapa waktu spesifik yang dianjurkan di dalamnya (misalnya malam pertama, Nisfu Rajab). | Dapat dilaksanakan kapan saja sepanjang tahun pada waktu-waktu tertentu di luar bulan Rajab (misalnya Dhuha di pagi hari, Tahajjud di sepertiga malam terakhir). |
| Kekhususan Niat | Niatnya seringkali dikaitkan dengan keutamaan dan keberkahan bulan Rajab secara spesifik. | Niatnya bersifat umum untuk mencari ridha Allah, menghapus dosa, atau meningkatkan derajat, tanpa terikat pada bulan tertentu. |
| Sumber Hadis & Fatwa Ulama | Beberapa bentuk shalat sunnah Rajab yang sangat spesifik (misalnya Shalat Raghaib) memiliki hadis yang derajatnya diperdebatkan oleh sebagian ulama, sehingga ada perbedaan pandangan mengenai keutamaannya. | Shalat sunnah seperti Dhuha, Tahajjud, dan Rawatib memiliki dasar hadis yang kuat dan diterima secara luas oleh mayoritas ulama. |
| Jumlah Raka’at | Terkadang disebutkan dengan jumlah raka’at tertentu yang bervariasi tergantung tradisi (misalnya 12 raka’at), meskipun tidak ada ketetapan yang mutlak. | Umumnya memiliki jumlah raka’at yang lebih fleksibel atau telah ditentukan secara jelas (misalnya Dhuha 2-12 raka’at, Tahajjud minimal 2 raka’at). |
Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa Shalat Sunnah Rajab, meski merupakan bagian dari ibadah sunnah, memiliki kekhasan tersendiri yang membuatnya unik dalam konteks ibadah bulanan umat Islam. Hal ini juga menunjukkan pentingnya pemahaman yang mendalam agar dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntunan yang shahih.
Dasar Hukum dan Pandangan Ulama

Diskusi mengenai dasar hukum dan pandangan ulama terkait shalat sunnah Rajab telah menjadi topik yang menarik perhatian dalam khazanah fikih Islam. Sebagaimana ibadah sunnah lainnya, landasan pelaksanaannya perlu ditinjau secara cermat agar sesuai dengan tuntunan syariat. Berbagai riwayat dan interpretasi dari para ulama terkemuka memberikan beragam perspektif yang penting untuk dipahami oleh umat muslim.
Dalil-Dalil yang Sering Dikaitkan
Dalam konteks shalat sunnah Rajab, perlu dijelaskan bahwa tidak ada dalil shahih yang secara spesifik memerintahkan atau menganjurkan shalat sunnah dengan tata cara atau jumlah rakaat tertentu pada bulan Rajab, apalagi yang dikenal dengan “Shalat Ragha’ib”. Meskipun demikian, beberapa riwayat hadis dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) sering kali dikaitkan dengan anjuran shalat khusus di bulan ini. Penting untuk memahami status hadis-hadis tersebut agar tidak keliru dalam beribadah.Beberapa riwayat yang sering beredar di antaranya adalah:
- Hadis yang menyebutkan keutamaan shalat pada malam Jumat pertama bulan Rajab, yang dikenal sebagai Shalat Ragha’ib. Hadis ini secara luas telah dinyatakan palsu oleh mayoritas ulama hadis.
- Riwayat yang mengklaim pahala besar bagi siapa saja yang berpuasa dan shalat pada hari-hari tertentu di bulan Rajab. Meskipun puasa sunnah di bulan-bulan haram (termasuk Rajab) dianjurkan secara umum, namun penetapan shalat khusus dengan tata cara tertentu tidak memiliki landasan yang kuat.
Para ulama hadis seperti Imam Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan lainnya telah menegaskan bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Shalat Ragha’ib atau shalat khusus Rajab adalah hadis-hadis yang tidak memiliki dasar kuat dan bahkan ada yang tergolong maudhu’ (palsu).
Pandangan Ulama Fikih Terkemuka, Shalat sunnah rajab
Mengingat tidak adanya dalil shahih yang secara spesifik membahas shalat sunnah Rajab, pandangan ulama fikih terkemuka cenderung seragam dalam menolak keberadaan shalat khusus ini. Namun, mereka tetap menganjurkan shalat sunnah mutlak (tanpa terikat waktu atau sebab khusus) yang bisa dilakukan kapan saja, termasuk di bulan Rajab. Berikut adalah rangkuman pandangan beberapa ulama:Imam Nawawi, salah satu ulama besar mazhab Syafi’i, secara tegas menyatakan dalam kitabnya bahwa Shalat Ragha’ib adalah bid’ah yang munkar (tercela).
“Shalat yang dikenal sebagai Shalat Ragha’ib, yang dilaksanakan antara Maghrib dan Isya’ pada malam Jumat pertama bulan Rajab, adalah bid’ah yang munkar, sesat, dan haram. Dan hadis yang menyebutkannya adalah palsu.”
Pandangan serupa juga diungkapkan oleh ulama dari mazhab lain. Mereka umumnya bersepakat bahwa mengkhususkan suatu ibadah tanpa adanya dalil yang shahih adalah tindakan bid’ah. Meskipun demikian, perlu ditekankan bahwa shalat sunnah secara umum (seperti shalat tahajud, dhuha, atau shalat mutlak lainnya) sangat dianjurkan kapan saja, termasuk di bulan Rajab, asalkan tidak dikaitkan dengan tata cara atau keutamaan khusus yang tidak ada dalilnya.
Melaksanakan shalat sunnah Rajab merupakan wujud penghormatan kita pada bulan yang mulia ini. Sebagaimana kita juga dianjurkan untuk rutin mengamalkan sunnah lainnya, contohnya memahami keutamaan 12 rakaat shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardhu. Kedua amalan ini, termasuk shalat sunnah Rajab, adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Perbandingan Pandangan Mazhab Utama
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah ringkasan pandangan dari beberapa mazhab utama terkait shalat sunnah Rajab, khususnya Shalat Ragha’ib:
| Mazhab | Pandangan Umum | Penjelasan Tambahan |
|---|---|---|
| Hanafi | Tidak ada shalat sunnah khusus Rajab yang ditetapkan. Shalat Ragha’ib dianggap bid’ah. | Mengikuti prinsip umum bahwa ibadah khusus harus berdasarkan dalil yang kuat. |
| Maliki | Menolak Shalat Ragha’ib dan shalat khusus Rajab lainnya. | Sangat ketat dalam menolak bid’ah, terutama dalam ibadah yang tidak memiliki dasar dari sunnah Nabi SAW. |
| Syafi’i | Shalat Ragha’ib secara tegas dinyatakan sebagai bid’ah yang munkar. | Ulama besar mazhab ini, seperti Imam Nawawi, mengeluarkan fatwa jelas tentang status bid’ahnya. |
| Hanbali | Tidak mengakui shalat sunnah khusus Rajab. Shalat Ragha’ib dianggap bid’ah. | Pendekatan yang menekankan pada mengikuti sunnah Nabi SAW dan menghindari inovasi dalam agama. |
Dari tabel perbandingan ini, dapat disimpulkan bahwa mayoritas ulama dari mazhab-mazhab utama sepakat bahwa shalat sunnah Rajab dengan tata cara atau nama khusus seperti Shalat Ragha’ib tidak memiliki dasar syar’i yang kuat dan bahkan dianggap sebagai bid’ah. Namun, ini tidak berarti umat muslim dilarang untuk memperbanyak shalat sunnah mutlak atau ibadah lainnya di bulan Rajab, asalkan tidak mengkhususkan ibadah tersebut dengan tata cara yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Mitos dan Kesalahpahaman Seputar Shalat Sunnah Rajab

Dalam semangat beribadah, terkadang muncul berbagai praktik yang, meski dilandasi niat baik, bisa jadi kurang sesuai dengan tuntunan syariat yang sahih. Bulan Rajab, dengan segala keistimewaannya, seringkali menjadi ladang subur bagi berkembangnya mitos dan kesalahpahaman terkait ibadah shalat sunnah. Penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara tradisi yang berkembang di masyarakat dengan ajaran agama yang berdasarkan dalil kuat.
Praktik-praktik Inovatif yang Tidak Berdasar
Beberapa praktik shalat sunnah di bulan Rajab telah berkembang di masyarakat dengan tata cara atau keutamaan yang tidak ditemukan dalam sumber-sumber ajaran Islam yang autentik. Pemahaman yang keliru ini seringkali membuat umat Islam melakukan ibadah dengan harapan pahala besar, namun tanpa dasar yang kuat. Berikut adalah beberapa contoh praktik yang seringkali disalahpahami:
- Shalat Raghaib: Ini adalah salah satu shalat sunnah yang paling populer dikaitkan dengan bulan Rajab, biasanya dilakukan pada malam Jumat pertama di bulan tersebut. Shalat ini memiliki jumlah rakaat dan tata cara khusus yang diyakini sebagian orang membawa keutamaan luar biasa. Namun, banyak ulama besar menegaskan bahwa shalat ini tidak memiliki dasar yang kuat dalam sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
- Jumlah Rakaat Khusus: Keyakinan akan adanya shalat sunnah Rajab dengan jumlah rakaat tertentu (misalnya 12, 100, atau 1000 rakaat) yang harus dikerjakan pada tanggal-tanggal spesifik di bulan Rajab, seringkali dengan doa atau zikir khusus di antara rakaatnya. Praktik semacam ini, dengan detail yang sangat spesifik dan keutamaan yang dijanjikan, tidak ditemukan dalam riwayat yang sahih.
- Keutamaan Berlebihan: Beberapa narasi yang beredar mengaitkan pahala yang sangat besar dan spesifik bagi mereka yang mengerjakan shalat sunnah tertentu di bulan Rajab, seperti pengampunan dosa-dosa masa lalu atau jaminan surga. Keutamaan yang berlebihan ini, jika tidak didukung oleh dalil yang kuat, dapat menyesatkan umat dari pemahaman yang benar tentang ibadah.
Perkembangan dan Penyebaran Praktik Keliru di Masyarakat
Praktik-praktik inovatif atau yang tidak berdasar ini seringkali berkembang dan menyebar di masyarakat melalui berbagai jalur. Transmisi lisan dari generasi ke generasi, tanpa verifikasi terhadap sumber aslinya, menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, pesatnya arus informasi di era digital, khususnya melalui media sosial dan aplikasi pesan instan, turut mempercepat penyebaran informasi yang belum tentu akurat mengenai tata cara dan keutamaan ibadah.
Keinginan yang kuat dari umat untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya, kadang tanpa diiringi pengetahuan yang memadai, juga menjadi celah bagi praktik-praktik semacam ini untuk tumbuh subur.
Gambaran Ilustrasi Kesalahpahaman Umum
Bayangkan sebuah adegan di sudut masjid pada malam-malam awal bulan Rajab. Seorang jamaah terlihat khusyuk melakukan shalat, namun dengan gerakan dan bacaan yang tidak lazim. Ia mungkin mengangkat tangan dalam posisi yang tidak biasa di antara setiap dua rakaat, atau mengulang-ulang bacaan tertentu dengan intonasi yang sangat spesifik, seolah ada tuntunan khusus yang hanya berlaku di bulan Rajab ini. Ekspresi wajahnya menunjukkan keyakinan mendalam akan kekhususan shalat yang sedang ia lakukan, seolah ia sedang melaksanakan sebuah ritual yang sangat unik dan berbeda dari shalat sunnah pada umumnya.
Di sekitarnya, beberapa jamaah lain mungkin memperhatikan dengan rasa penasaran, bahkan mungkin ada yang mulai meniru, mengira itu adalah bagian dari tata cara shalat sunnah Rajab yang benar dan membawa keutamaan istimewa. Padahal, gerakan dan bacaan tersebut tidak sesuai dengan tuntunan syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ untuk shalat secara umum, dan kekhususan yang ia tunjukkan itu tidak berdasar pada dalil yang sahih.
Hikmah dan Makna Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam kalender Hijriah, dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan. Kehadirannya seringkali menjadi penanda awal persiapan spiritual menuju bulan Ramadan yang penuh berkah. Lebih dari sekadar penanggalan, Rajab menyimpan hikmah mendalam yang mengajak umat Islam untuk merenung, introspeksi, dan meningkatkan kualitas ibadah secara menyeluruh.
Hikmah Spiritual Bulan Rajab
Bulan Rajab menawarkan berbagai hikmah spiritual yang dapat dipetik oleh setiap Muslim. Sebagai bulan haram, Rajab menjadi momentum untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi perbuatan dosa, karena pahala amal baik dilipatgandakan, begitu pula dengan dosa. Ini adalah kesempatan emas untuk melatih diri dalam ketaatan, menata hati, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Keistimewaan Rajab juga terletak pada perannya sebagai jembatan menuju Syaban dan kemudian Ramadan, menginspirasi umat untuk mulai memupuk kebiasaan ibadah yang lebih intens.Selain itu, Rajab mengajarkan pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam beribadah.
Dengan memulai peningkatan ibadah di bulan ini, seorang Muslim sedang mempersiapkan mental dan spiritualnya untuk menyambut bulan puasa wajib dengan kondisi hati yang lebih bersih dan jiwa yang lebih tenang. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperbarui niat, memohon ampunan, dan merancang target-target ibadah yang ingin dicapai sepanjang tahun.
Bulan Rajab selalu menjadi momen istimewa untuk memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan shalat sunnah. Selain itu, memperkaya spiritualitas bisa dengan mengamalkan shalawat ali bin abi thalib yang penuh keutamaan. Menggabungkan kedua amalan ini, shalat sunnah dan shalawat, tentu akan menambah keberkahan serta melengkapi ibadah kita di bulan Rajab yang mulia ini.
Memaksimalkan Ibadah Sesuai Tuntunan Syariat
Untuk memaksimalkan ibadah di bulan Rajab, umat Islam dianjurkan untuk berpegang teguh pada tuntunan syariat dan menjauhi amalan-amalan yang tidak memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Fokus utama adalah pada peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah-ibadah yang memang dianjurkan secara umum dalam Islam, bukan mencari-cari amalan khusus yang dikaitkan secara spesifik dengan Rajab tanpa dalil yang shahih. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap ibadah yang dilakukan diterima di sisi Allah dan memberikan keberkahan yang hakiki.Memaksimalkan ibadah berarti menjadikan setiap hari di bulan Rajab sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ini termasuk menjaga shalat wajib tepat waktu, memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, serta melakukan berbagai amal kebaikan lainnya. Penting juga untuk membersihkan diri dari segala bentuk kemaksiatan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, serta memperbanyak istighfar dan taubat. Dengan demikian, bulan Rajab menjadi ajang latihan spiritual yang efektif sebelum tiba bulan Ramadan.
Anjuran Ibadah yang Shahih di Bulan Rajab
Meskipun tidak ada ibadah spesifik yang dikhususkan untuk bulan Rajab selain puasa sunnah yang umum (seperti Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh), umat Islam tetap dianjurkan untuk meningkatkan amal kebaikan secara umum. Peningkatan ibadah ini sejalan dengan status Rajab sebagai bulan haram, di mana setiap amal kebaikan memiliki nilai yang lebih tinggi. Berikut adalah beberapa anjuran ibadah yang shahih dan dapat diamalkan di bulan Rajab:
- Memperbanyak Puasa Sunnah: Puasa sunnah seperti puasa Senin dan Kamis, atau puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriah), sangat dianjurkan. Ini adalah praktik yang memiliki dalil umum dari Rasulullah SAW dan dapat diamalkan kapan saja, termasuk di bulan Rajab.
- Membaca dan Merenungi Al-Qur’an: Mengalokasikan waktu lebih banyak untuk membaca Al-Qur’an, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan sumber petunjuk dan ketenangan hati bagi setiap Muslim.
- Memperbanyak Dzikir dan Doa: Meluangkan waktu untuk berdzikir, memuji Allah, dan berdoa memohon kebaikan dunia serta akhirat. Doa adalah inti ibadah dan menjadi sarana komunikasi langsung dengan Allah.
- Bersedekah: Memberikan sebagian harta kepada yang membutuhkan adalah amalan yang sangat dicintai Allah. Bersedekah dapat membersihkan harta dan jiwa, serta mendatangkan keberkahan.
- Memperbanyak Istighfar dan Taubat: Mengakui dosa-dosa dan memohon ampunan kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh. Bulan Rajab adalah waktu yang baik untuk memulai lembaran baru dengan taubat nasuha.
- Menjaga Silaturahmi: Mempererat hubungan dengan keluarga, kerabat, dan sesama Muslim. Silaturahmi adalah amalan yang mendatangkan pahala besar dan memperpanjang umur.
- Muhasabah Diri: Melakukan introspeksi atas perbuatan yang telah dilakukan, mengevaluasi kekurangan, dan merencanakan perbaikan diri untuk masa depan.
- Menjauhi Maksiat: Berusaha keras untuk meninggalkan segala bentuk perbuatan dosa dan kemaksiatan, baik yang besar maupun yang kecil, sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan-bulan haram.
Ringkasan Penutup

Pada akhirnya, pemahaman yang menyeluruh tentang shalat sunnah Rajab, mulai dari dasar hukum, tata cara, hingga meluruskan mitos yang berkembang, sangat esensial bagi umat Islam. Dengan pengetahuan yang benar, setiap muslim dapat mengoptimalkan ibadah di bulan Rajab sesuai tuntunan syariat, meraih hikmah spiritual, serta menghindari praktik-praktik yang tidak berdasar, menjadikan bulan mulia ini sebagai momentum peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Jawaban yang Berguna
Apakah shalat sunnah Rajab wajib hukumnya bagi umat Islam?
Shalat sunnah Rajab bukanlah ibadah wajib, melainkan amalan sunnah yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa.
Bolehkah seorang wanita yang sedang haid melakukan shalat sunnah Rajab?
Wanita yang sedang haid dilarang melaksanakan shalat, termasuk shalat sunnah Rajab, namun mereka tetap bisa berzikir, berdoa, atau membaca Al-Quran tanpa menyentuh mushaf.
Adakah keutamaan khusus bagi orang yang rutin melaksanakan shalat sunnah Rajab?
Keutamaan khusus yang shahih dan spesifik terkait shalat sunnah Rajab tidak disebutkan dalam dalil yang kuat, namun beribadah di bulan Rajab secara umum memiliki keutamaan tersendiri.
Apakah shalat sunnah Rajab harus dilakukan secara berjamaah?
Shalat sunnah Rajab, seperti kebanyakan shalat sunnah lainnya, pada dasarnya dapat dilakukan secara munfarid (sendirian) maupun berjamaah, namun tidak ada anjuran khusus untuk berjamaah.



