
Sunnah Rasul Pedoman Hidup Lengkap Umat Muslim
October 8, 2025
Sunnah Ghairu Muakkad amalan anjuran penuh keutamaan
October 8, 2025Puasa Sunnah Muharrom menawarkan kesempatan emas bagi umat Muslim untuk meraih pahala berlimpah dan membersihkan diri di awal tahun Hijriah. Bulan Muharram, salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan, menjadi waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, terutama puasa, sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, puasa di bulan ini, khususnya pada hari Tasu’a dan Asyura, memiliki sejarah panjang dan keutamaan yang luar biasa, bahkan telah dilakukan sejak masa sebelum Islam dan kemudian ditegaskan kembali oleh Rasulullah SAW. Berbagai amalan lain pun turut menghiasi bulan penuh berkah ini, memperkaya spiritualitas dan mempererat tali persaudaraan.
Keutamaan dan Sejarah Puasa Muharram

Bulan Muharram, sebagai pembuka tahun baru Hijriah, memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Selain menjadi salah satu bulan haram yang dimuliakan, bulan ini juga menyimpan anjuran ibadah puasa sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa, terutama pada hari Asyura. Mari kita selami lebih dalam mengenai keutamaan serta sejarah panjang di balik penetapan puasa sunnah di bulan yang penuh berkah ini.
Keutamaan Puasa Sunnah Muharram
Puasa sunnah di bulan Muharram merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan, bahkan Rasulullah ﷺ sendiri memberikan penekanan khusus terhadapnya. Keutamaan puasa ini tergambar jelas dalam beberapa riwayat hadis shahih yang menjadi landasan syariat. Melaksanakan puasa di bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura, memiliki nilai pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT.Salah satu hadis yang paling sering dikutip adalah sabda Rasulullah ﷺ: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR.
Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa di antara semua puasa sunnah, puasa Muharram menempati posisi tertinggi setelah puasa wajib Ramadhan. Ini menjadi motivasi kuat bagi umat Islam untuk tidak melewatkan kesempatan emas beribadah di bulan yang mulia ini. Selain itu, terkait puasa Asyura (tanggal 10 Muharram), Rasulullah ﷺ bersabda, “Puasa Asyura itu dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).
Puasa sunnah Muharrom adalah amalan yang sangat dianjurkan di awal tahun Hijriah. Untuk memaksimalkan ibadah ini, penting juga menjaga shalat wajib dan sunnah. Memahami kapan shalat sunnah fajar dilaksanakan pada waktu yang tepat tentu sangat membantu dalam mengatur rutinitas sahur. Dengan begitu, kekhusyukan dalam menjalankan puasa sunnah Muharrom dapat lebih terjaga dan penuh berkah.
Keutamaan ini menunjukkan betapa besarnya ampunan yang bisa diraih hanya dengan berpuasa sehari, menjadikannya kesempatan emas untuk membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu.
Sejarah Penetapan Puasa Asyura
Puasa Asyura memiliki sejarah yang panjang dan berliku, dimulai jauh sebelum kedatangan Islam dan terus berlanjut hingga penetapan puasa Ramadhan sebagai puasa wajib. Perjalanan syariat puasa ini menunjukkan fleksibilitas dan hikmah dalam ajaran Islam yang senantiasa relevan dengan berbagai kondisi.Berikut adalah poin-poin penting dalam sejarah puasa Asyura:
- Pra-Islam: Puasa Asyura telah dikenal dan dipraktikkan oleh kaum Quraisy di Mekah bahkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus. Mereka berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap Ka’bah atau sebagai bagian dari tradisi yang diwarisi.
- Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ di Madinah: Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura. Setelah bertanya, beliau mengetahui bahwa mereka berpuasa untuk memperingati hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari Firaun dengan menenggelamkan Firaun dan pasukannya di Laut Merah.
- Anjuran Puasa Asyura: Nabi Muhammad ﷺ kemudian bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Pada masa awal Islam di Madinah, puasa Asyura bahkan dianggap sebagai puasa wajib sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan.
- Penetapan Puasa Ramadhan: Setelah turunnya ayat Al-Qur’an yang mewajibkan puasa Ramadhan (Surah Al-Baqarah ayat 183-185), status puasa Asyura berubah menjadi sunnah. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan pilihan kepada umatnya untuk berpuasa Asyura atau tidak, seraya tetap menganjurkannya karena keutamaannya.
Hikmah Disunnahkannya Puasa Tasu’a
Selain puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, umat Islam juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Tasu’a. Anjuran ini memiliki hikmah mendalam yang telah banyak dibahas oleh para ulama. Tujuan utama dari puasa Tasu’a adalah untuk membedakan diri dari praktik puasa kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura saja.Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, beliau berkeinginan untuk berpuasa pada hari ke-9 Muharram di tahun berikutnya, seraya bersabda, “Jika aku hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).” (HR.
Muslim). Namun, beliau wafat sebelum tiba Muharram tahun berikutnya. Oleh karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa puasa Tasu’a adalah sunnah untuk menggenapi atau mendahului puasa Asyura, sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak menyerupai ibadah kaum Yahudi secara mutlak. Dengan demikian, puasa Tasu’a menjadi pelengkap yang menyempurnakan ibadah puasa di bulan Muharram, menambah pahala, dan menegaskan identitas umat Islam.
Puasa sunnah Muharram menjadi kesempatan emas meraih pahala berlimpah. Selain itu, jangan lupa menyempurnakan hari dengan sholat sunnah sebelum dzuhur yang juga memiliki keutamaan luar biasa. Kombinasi kedua amalan ini tentu akan menambah keberkahan di bulan Muharram. Mari maksimalkan ibadah kita.
Nasihat Ulama Salaf tentang Muharram, Puasa sunnah muharrom
Bulan Muharram adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah dan merenungi makna tahun baru Hijriah. Para ulama salaf, generasi terbaik umat ini, telah memberikan banyak nasihat berharga tentang bagaimana memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya.Salah satu kutipan yang menginspirasi datang dari Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah, yang menyoroti pentingnya setiap awal waktu:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Apabila berlalu satu hari, maka berlalu pula sebagian dari dirimu.”
Kutipan ini, meskipun umum, sangat relevan dengan awal tahun Muharram, mengingatkan kita untuk tidak menyia-nyiakan waktu, apalagi di bulan yang mulia ini, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Gambaran Visual Penyelamatan Nabi Musa di Hari Asyura
Bayangkan sebuah ilustrasi yang menggambarkan puncak ketegangan dan keajaiban ilahi pada hari Asyura. Di tengah lukisan, terbentang luas Laut Merah yang terbelah menjadi dua dinding air raksasa, menjulang tinggi di kedua sisi, menciptakan lorong kering yang membentang jauh ke kejauhan. Di satu sisi lorong, terlihat rombongan Nabi Musa alaihissalam dan Bani Israil, mereka berjalan dengan wajah penuh kelegaan dan rasa syukur, memandang ke belakang dengan takjub pada dinding air yang mengagumkan.
Pakaian mereka sederhana, namun ekspresi wajah mereka memancarkan harapan dan keimanan yang kuat.Di sisi lain lorong, di belakang mereka, terlihat pasukan Firaun dengan kereta kuda dan tentara bersenjata lengkap, bergegas mengejar. Wajah-wajah mereka dipenuhi amarah dan kesombongan, namun di mata sebagian tentara mulai tersirat ketakutan saat menyadari keajaiban yang terjadi. Di bagian paling belakang, Firaun sendiri, dengan mahkota kebesarannya, terlihat di atas kereta kudanya, masih dalam kesombongan yang buta, tidak menyadari takdir yang akan menimpanya.
Warna biru tua laut yang terbelah kontras dengan warna keemasan pasir di dasar laut yang kering, menciptakan komposisi dramatis. Di langit, awan-awan bergerak cepat, seolah menjadi saksi bisu atas mukjizat besar yang menunjukkan kekuasaan Allah dan menyelamatkan kaum yang beriman. Ilustrasi ini menangkap momen krusial di mana keadilan ilahi ditegakkan dan keajaiban menjadi nyata.
Terakhir

Melalui pembahasan mengenai puasa sunnah Muharram ini, tampak jelas bahwa bulan pertama dalam kalender Hijriah adalah ladang amal yang tak ternilai harganya. Bukan hanya terbatas pada puasa Tasu’a dan Asyura, namun juga meliputi berbagai amalan kebaikan lain seperti sedekah dan tradisi positif yang memperkuat keimanan. Dengan memahami keutamaan, tata cara, dan amalan-amalan yang dianjurkan, umat Muslim dapat menyambut dan mengisi bulan Muharram dengan penuh semangat ibadah, meraih ampunan, serta keberkahan yang melimpah dari sisi-Nya.
Area Tanya Jawab: Puasa Sunnah Muharrom
Bolehkah puasa Muharram digabung dengan puasa qadha Ramadhan?
Ya, sebagian ulama membolehkan menggabungkan niat puasa sunnah Muharram (seperti Asyura) dengan puasa qadha Ramadhan, sehingga seseorang bisa mendapatkan pahala keduanya.
Apakah wanita haid boleh melakukan amalan lain di bulan Muharram?
Tentu saja. Meskipun tidak dapat berpuasa atau salat, wanita haid tetap bisa memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an (tanpa menyentuh mushaf), bersedekah, mendengarkan ceramah, dan melakukan amalan baik lainnya.
Apa hukum puasa selain Tasu’a dan Asyura di bulan Muharram?
Puasa sunnah di bulan Muharram sangat dianjurkan secara umum. Selain Tasu’a dan Asyura, berpuasa pada hari-hari lain di bulan Muharram juga memiliki keutamaan, sebagaimana sabda Nabi bahwa puasa terbaik setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.
Apakah ada makanan khusus saat berbuka puasa Asyura?
Tidak ada makanan khusus yang disyariatkan untuk berbuka puasa Asyura. Umat Muslim dapat berbuka dengan makanan yang halal dan baik, sebagaimana pada puasa-puasa lainnya.
Apakah ada larangan khusus di bulan Muharram?
Tidak ada larangan khusus yang bersifat syar’i di bulan Muharram selain larangan umum seperti berbuat maksiat. Justru bulan ini adalah bulan mulia yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan menjauhi perbuatan dosa.



