
Kitab Safinatun Najah Panduan Fiqih Praktis Umat
January 6, 2025
Kata bijak Gus Baha mendalami dan menerapkan relevansinya
January 6, 2025Ponpes Gus Baha menelusuri pemikiran tafsir dan pengaruhnya membuka jendela ke dunia intelektual seorang ulama kharismatik yang dikenal dengan kedalaman ilmu dan pendekatan moderatnya. Beliau adalah sosok yang mampu menjembatani khazanah keilmuan Islam klasik dengan relevansi kehidupan modern, menjadikan ajarannya mudah diterima oleh berbagai kalangan, khususnya generasi muda. Diskusi mengenai Gus Baha selalu menarik, tidak hanya karena keluasan ilmunya tetapi juga karena gaya penyampaiannya yang khas, penuh humor, namun tetap sarat makna.
Melalui riwayat pendidikannya yang cemerlang, Gus Baha telah membentuk sebuah pemikiran yang unik, terutama dalam metodologi tafsir Al-Qur’an yang rasional dan kontekstual. Kontribusinya meluas hingga pada pemahaman fiqih dan tasawuf, di mana beliau berhasil mengintegrasikan keduanya untuk mencapai kedamaian batin dan kehidupan yang seimbang. Model pendidikan di pondok pesantren pun banyak yang terinspirasi dari pendekatannya, menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan relevan dengan tantangan zaman.
Ciri Khas Metodologi Tafsir Al-Qur’an Gus Baha

Gus Baha, atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, dikenal luas sebagai ulama yang memiliki pendekatan unik dalam menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Metodologi tafsir beliau bukan hanya mendalam secara keilmuan, tetapi juga sangat relevan dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Beliau berhasil memadukan kekayaan tradisi keilmuan pesantren dengan sentuhan rasionalitas dan kontekstualitas yang kuat, menjadikannya rujukan penting dalam memahami pesan-pesan ilahi.Pendekatan Gus Baha dalam menafsirkan Al-Qur’an seringkali menonjolkan aspek kemudahan (taisir) dan rahmat Allah.
Beliau tidak hanya terpaku pada teks literal, melainkan juga menggali hikmah di balik setiap ayat, menghubungkannya dengan realitas kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, ajaran Islam yang kadang terasa rumit atau eksklusif menjadi lebih inklusif dan membumi, mendorong umat untuk merefleksikan diri dan menemukan solusi atas persoalan kontemporer melalui kacamata Al-Qur’an.
Pendekatan Rasional dan Kontekstual dalam Tafsir
Gus Baha seringkali menggunakan penalaran yang logis dan akal sehat dalam menjelaskan suatu ayat. Beliau mampu menguraikan kompleksitas ayat-ayat hukum atau teologi dengan bahasa yang sederhana, namun tetap mempertahankan kedalaman maknanya. Pendekatan rasional ini tidak lantas mengesampingkan aspek spiritual, melainkan justru memperkuat keyakinan dengan menunjukkan koherensi antara ajaran agama dan fitrah kemanusiaan.Selain rasionalitas, Gus Baha juga sangat memperhatikan aspek kontekstualitas.
Beliau kerap menjelaskan latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul) serta kondisi sosial-budaya masyarakat pada masa Nabi Muhammad SAW. Pemahaman konteks ini penting untuk menghindari penafsiran yang parsial atau anachronistik, sehingga pesan Al-Qur’an dapat diaplikasikan secara tepat dalam kehidupan modern tanpa kehilangan esensi aslinya. Beliau seringkali mengingatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk seluruh zaman dan tempat, sehingga penafsirannya harus mampu menjawab tantangan zaman.
Perbandingan Metodologi Tafsir dengan Ulama Kontemporer
Metodologi tafsir Gus Baha memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari ulama tafsir kontemporer lainnya. Perbedaan ini terletak pada penekanan dan gaya penyampaian yang beliau gunakan, meskipun pada dasarnya semua ulama tafsir bertujuan untuk menjelaskan kalamullah. Berikut adalah perbandingan singkat metodologi Gus Baha dengan dua ulama tafsir kontemporer lainnya yang juga dikenal luas:
| Ulama Tafsir | Pendekatan Utama | Penekanan Khas |
|---|---|---|
| Gus Baha | Rasionalitas, Kontekstualitas, Sanad Keilmuan Kuat | Kemudahan (Taisir), Rahmat, Relevansi dengan Kehidupan Sehari-hari, Bahasa Sederhana namun Mendalam |
| Prof. Dr. M. Quraish Shihab | Linguistik, Tematik, Komparatif | Kesesuaian Bahasa Arab, Koherensi Ayat, Moderasi, Kemanusiaan, Wawasan Kebangsaan |
| Prof. Dr. Hamka | Sastrawi, Dakwah, Moral-Eskatologis | Gaya Bahasa Indah, Pesan Moral, Penguatan Akidah, Spirit Nasionalisme dan Keindonesiaan |
Contoh Konkret Penafsiran Ayat Al-Qur’an, Ponpes gus baha
Salah satu contoh penafsiran Gus Baha yang sering beliau sampaikan adalah terkait QS. Al-Baqarah [2]: 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Dalam menafsirkan ayat ini, Gus Baha menekankan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan penuh rahmat. Beliau sering mengkritisi pandangan yang cenderung mempersulit atau membebani umat dengan tafsir-tafsir yang kaku dan tidak kontekstual.Gus Baha menjelaskan bahwa setiap perintah dan larangan dalam Islam selalu berada dalam batas kemampuan manusia.
Jika ada suatu ibadah atau ketentuan yang dirasa sangat berat, maka pasti ada keringanan (rukhsah) yang disediakan. Ini menunjukkan betapa Allah Maha Pengasih dan tidak pernah menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya. Beliau mengingatkan bahwa terkadang kesulitan itu muncul bukan dari ajaran agama itu sendiri, melainkan dari cara pandang atau penafsiran yang keliru.
“Agama itu dasarnya gampang, jangan malah dibikin susah. Kalau Allah saja tidak membebani di luar kemampuan kita, kenapa kita yang justru suka membebani diri sendiri atau orang lain dengan tafsir yang rumit? Kesusahan itu kadang datangnya dari pikiran kita sendiri, bukan dari Allah.”
Nilai-nilai Filosofis dalam Tafsir Gus Baha
Setiap penafsiran Gus Baha selalu didasari oleh nilai-nilai filosofis yang kuat, yang membentuk corak pemikiran beliau. Nilai-nilai ini tidak hanya tercermin dalam penjelasan ayat, tetapi juga dalam sikap dan pandangan hidup beliau secara umum. Memahami nilai-nilai ini akan membantu kita menyelami lebih dalam kekayaan pemikiran Gus Baha:
- Kemudahan (Taisir): Gus Baha secara konsisten mengedepankan prinsip bahwa agama itu mudah dan tidak mempersulit. Beliau selalu mencari jalan tengah dan memberikan keringanan dalam memahami syariat, sesuai dengan semangat Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam setiap penjelasannya, menghilangkan kesan bahwa agama adalah beban.
- Kasih Sayang (Rahmah): Tafsir Gus Baha selalu diliputi nuansa kasih sayang Allah yang begitu luas. Beliau sering mengingatkan bahwa setiap perintah dan larangan agama sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah untuk kebaikan manusia itu sendiri, bukan untuk menyusahkan. Pemahaman ini menumbuhkan optimisme dan rasa syukur dalam beragama.
- Moderasi (Wasathiyah): Beliau sangat menekankan pentingnya sikap moderat dan menghindari ekstremisme dalam beragama. Gus Baha mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal, baik dalam ibadah maupun dalam memahami teks agama. Moderasi ini menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan dan kerukunan dalam masyarakat.
- Kemanusiaan (Insaniyah): Gus Baha seringkali menempatkan martabat dan akal sehat manusia pada posisi yang tinggi, tanpa mengurangi keagungan wahyu. Beliau menunjukkan bahwa ajaran Islam sangat menghargai kemanusiaan, memberikan ruang bagi akal untuk berpikir, dan mendorong manusia untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
Model Pendidikan di Pondok Pesantren yang Terinspirasi Gus Baha

Pendekatan Gus Baha dalam mengkaji ilmu agama, yang menekankan rasionalitas, kontekstualisasi, dan kedalaman pemahaman, telah menjadi inspirasi bagi banyak lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren. Model pendidikan yang terinspirasi beliau berupaya menciptakan santri yang tidak hanya hafal teks, tetapi juga mampu memahami esensi ajaran agama dan menerapkannya secara bijaksana dalam konteks kehidupan modern. Pesantren-pesantren ini bergerak menuju paradigma baru, di mana diskusi kritis dan penalaran menjadi inti dari proses belajar mengajar.
Karakteristik Pendidikan Pesantren Berbasis Rasionalitas dan Kontekstualitas
Model pendidikan di pondok pesantren yang mengadopsi pemikiran Gus Baha cenderung mengedepankan beberapa karakteristik utama. Pertama, adanya penekanan kuat pada pemahaman filosofis dan rasional di balik setiap hukum atau ajaran agama. Santri didorong untuk tidak sekadar menerima, tetapi juga mempertanyakan dan mencari tahu
-illat* (alasan logis) dari sebuah ketetapan syariat. Ini melibatkan pendalaman pada ilmu
-ushul fiqh* dan
-maqashid syariah* (tujuan-tujuan syariah) sebagai kerangka berpikir.
Kedua, pendekatan kontekstualisasi menjadi sangat penting. Ajaran agama tidak dipahami secara kaku dan lepas dari realitas sosial. Sebaliknya, santri diajak untuk menghubungkan teks-teks klasik dengan isu-isu kontemporer, sehingga ajaran agama tetap relevan dan solutif. Diskusi mengenai bagaimana hukum Islam berinteraksi dengan perkembangan zaman, teknologi, dan budaya menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum.
Ketiga, terciptanya lingkungan belajar yang dialogis dan partisipatif. Guru atau kiai berperan sebagai fasilitator yang merangsang santri untuk berpikir kritis, berargumentasi, dan bahkan berani berbeda pendapat dalam koridor ilmu. Hal ini berbeda dengan model tradisional yang mungkin lebih menekankan hafalan dan penyerapan informasi satu arah. Santri diajarkan untuk mengembangkan nalar kritis dan kemandirian intelektual.
Kurikulum Inovatif yang Selaras dengan Pemikiran Gus Baha
Dalam rangka mendukung model pendidikan yang rasional dan kontekstual, pesantren yang terinspirasi Gus Baha merancang kurikulum yang lebih adaptif dan komprehensif. Beberapa mata pelajaran atau pendekatan kajian yang relevan dengan pemikiran beliau di antaranya:
- Fiqh dengan Pendekatan Maqashid Syariah: Tidak hanya mempelajari hukum-hukum fiqh secara tekstual, tetapi juga menggali tujuan dan hikmah di balik setiap penetapan hukum. Santri diajak memahami bahwa syariat diturunkan untuk kemaslahatan umat.
- Tafsir Al-Qur’an dan Hadis Multidisipliner: Kajian tafsir dan hadis diperkaya dengan ilmu bantu seperti linguistik, sejarah, sosiologi, dan antropologi. Tujuannya agar santri mampu memahami konteks turunnya ayat dan hadis serta relevansinya dengan tantangan masa kini.
- Ilmu Kalam dan Logika (Mantiq): Pembelajaran ilmu kalam tidak hanya tentang akidah, tetapi juga melatih santri untuk berargumen secara logis dan sistematis dalam menghadapi berbagai pemikiran. Ilmu logika menjadi alat untuk mengasah nalar kritis.
- Kajian Kitab Kuning dengan Analisis Komparatif: Kitab-kitab kuning klasik tetap menjadi rujukan utama, namun dikaji dengan perbandingan berbagai pandangan ulama dan madzhab, serta analisis terhadap metodologi yang digunakan.
- Pengantar Filsafat Islam dan Ilmu Pengetahuan Umum: Membekali santri dengan pemahaman dasar filsafat untuk memperluas cakrawala berpikir dan ilmu pengetahuan umum agar mereka memiliki wawasan global dan tidak gagap terhadap perkembangan zaman.
- Studi Isu-isu Kontemporer dalam Perspektif Islam: Mengkaji berbagai permasalahan modern seperti ekonomi syariah, lingkungan hidup, etika digital, dan hak asasi manusia dari sudut pandang ajaran Islam.
Perbandingan Metode Pengajaran: Tradisional versus Adaptasi Gus Baha
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah perbandingan antara metode pengajaran tradisional yang umum di pesantren dengan inovasi yang mungkin diadopsi dari gaya Gus Baha:
| Aspek | Metode Pengajaran Tradisional | Inovasi Adaptasi Gus Baha | Dampak |
|---|---|---|---|
| Tujuan Pembelajaran | Penguasaan teks klasik secara verbatim dan hafalan. | Pemahaman mendalam, analisis kritis, relevansi kontekstual. | Santri memiliki pemahaman utuh dan mampu berijtihad, bukan sekadar meniru. |
| Interaksi Pengajar-Santri | Satu arah (ceramah), guru sebagai sumber tunggal pengetahuan. | Dialog interaktif, diskusi terbuka, guru sebagai fasilitator dan mitra diskusi. | Lingkungan belajar partisipatif, santri lebih aktif bertanya, berpendapat, dan mengembangkan nalar. |
| Materi Kajian | Fokus pada kitab kuning tanpa banyak kontekstualisasi dengan realitas. | Kitab kuning dikaji dengan perspektif ilmu modern dan isu kontemporer. | Materi lebih hidup, relevan dengan tantangan zaman, dan membuka wawasan multidisipliner. |
| Evaluasi | Ujian hafalan, kemampuan reproduksi teks, dan penguasaan redaksi. | Ujian pemahaman, analisis kasus, kemampuan argumentasi, dan problem solving. | Mengukur kedalaman pemahaman, kemampuan aplikasi, dan penalaran santri. |
| Peran Santri | Penerima pasif, menghafal, dan patuh pada penjelasan guru. | Subjek aktif, kritis, berani bertanya, dan mencari pemahaman sendiri. | Melahirkan santri yang mandiri secara intelektual dan memiliki daya analisis tinggi. |
Suasana Belajar Mengajar yang Dinamis dan Mencerahkan
Di pesantren yang mengaplikasikan pemikiran Gus Baha, suasana belajar mengajar jauh dari kesan kaku atau monoton. Bayangkan sebuah ruang kelas yang mungkin sederhana, dengan santri duduk melingkar di lantai atau di bangku panjang. Seorang kiai atau ustadz tidak sekadar membacakan teks kitab, melainkan memulai diskusi dengan sebuah pertanyaan provokatif yang memancing santri untuk berpikir. Misalnya, “Mengapa Rasulullah melarang jual beli
-gharar* (ketidakpastian)?
Apa implikasinya dalam transaksi online saat ini?”
Interaksi antara santri dan pengajar sangat hidup. Santri tidak sungkan untuk mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan yang mendalam, atau bahkan menyampaikan pandangan yang berbeda, tentu saja dengan adab dan dasar argumen yang kuat. Kiai atau ustadz akan dengan sabar mendengarkan, memberikan tanggapan yang mencerahkan, seringkali diselingi humor khas ala Gus Baha untuk mencairkan suasana dan memudahkan pemahaman konsep yang kompleks. Analogi dari kehidupan sehari-hari sering digunakan untuk menjelaskan teori-teori fiqh atau tafsir yang rumit, membuat materi terasa lebih dekat dan mudah dicerna.
Kajian di ponpes Gus Baha selalu memberikan pencerahan mendalam, terutama soal makna kehidupan dan kematian. Dalam mempersiapkan bekal akhirat, tak ada salahnya mempertimbangkan layanan pemakaman profesional seperti Kerandaku. Ini tentu meringankan keluarga agar bisa fokus beribadah, selaras dengan ajaran Gus Baha tentang pentingnya ketenangan batin.
Materi yang dibahas tidak hanya berhenti pada “apa” hukumnya, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” penerapannya dalam berbagai skenario. Ketika membahas ayat-ayat Al-Qur’an, misalnya, guru akan mengajak santri untuk melihat konteks historis turunnya ayat (asbabun nuzul), perdebatan para ulama tafsir, hingga relevansinya dengan masalah sosial atau moral yang dihadapi masyarakat modern. Diskusi bisa meluas dari persoalan ibadah hingga isu-isu kebangsaan, ekonomi, atau bahkan teknologi, semuanya ditinjau dari kacamata Islam yang rasional dan kontekstual.
Suasana semacam ini tidak hanya meningkatkan kapasitas intelektual santri, tetapi juga menumbuhkan semangat keilmuan yang kritis dan aplikatif.
Dampak Pengajaran Gus Baha terhadap Generasi Muda Muslim

Pengajaran Gus Baha telah menorehkan jejak signifikan dalam lanskap pemahaman Islam di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Dengan gaya ceramah yang santai namun sarat makna, beliau berhasil menyajikan khazanah keilmuan Islam klasik dengan pendekatan yang relevan dan mudah dicerna oleh audiens milenial dan Gen Z. Pendekatan ini secara khusus menarik perhatian mereka yang mencari pemahaman agama yang lebih moderat, logis, dan inklusif, jauh dari kesan dogmatis atau kaku yang mungkin sering mereka temui.
Gus Baha mampu menjembatani kesenjangan antara tradisi keilmuan pesantren yang mendalam dengan kebutuhan spiritual dan intelektual kaum muda di era modern ini.
Daya Tarik Gus Baha di Mata Generasi Muda
Gaya ceramah Gus Baha yang khas menjadi magnet tersendiri bagi generasi muda. Beliau tidak hanya sekadar menyampaikan dalil-dalil agama, melainkan juga membongkar konteks historis, filosofis, dan sosiologis di baliknya. Hal ini membuat ajaran Islam terasa lebih hidup dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Keberaniannya dalam menyampaikan pandangan yang terkadang ‘nyeleneh’ namun tetap berlandaskan pada rujukan kitab kuning yang kuat, justru membuat generasi muda merasa diajak berpikir kritis dan tidak terpaku pada satu tafsir tunggal.
Mereka menemukan bahwa Islam adalah agama yang kaya akan perspektif dan toleran terhadap perbedaan.
Perubahan Pandangan dan Sikap Keagamaan Generasi Muda
Setelah terpapar ajaran Gus Baha, banyak generasi muda melaporkan adanya pergeseran dalam cara mereka memandang dan mempraktikkan agama. Perubahan ini seringkali mengarah pada pemahaman Islam yang lebih damai, inklusif, dan rasional. Berikut adalah beberapa poin perubahan pandangan atau sikap keagamaan yang dapat diamati:
- Moderasi Beragama: Generasi muda cenderung lebih moderat dalam memahami dan menyikapi perbedaan pendapat dalam Islam, serta lebih terbuka terhadap keberagaman.
- Logika dan Rasionalitas: Mereka mulai mencari dasar-dasar logis dan rasional di balik setiap ajaran agama, tidak hanya sekadar menerima tanpa pertanyaan.
- Anti-Ekstremisme: Pemahaman Islam yang disampaikan Gus Baha secara tidak langsung menumbuhkan sikap anti-ekstremisme dan intoleransi, karena menekankan pada esensi rahmat dan kasih sayang Islam.
- Kritisisme Konstruktif: Mampu membedakan antara ajaran agama yang esensial dengan budaya atau tafsir yang bersifat kontekstual, sehingga tidak mudah terjebak pada puritanisme sempit.
- Ketenangan Spiritual: Banyak yang merasa lebih tenang dan damai dalam beragama, karena Gus Baha seringkali mengingatkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima tobat, sehingga tidak perlu merasa terlalu terbebani oleh rasa bersalah yang berlebihan.
- Apresiasi Terhadap Ilmu Klasik: Meningkatnya minat generasi muda untuk mempelajari kitab-kitab kuning dan literatur Islam klasik, karena Gus Baha sering merujuk pada karya-karya ulama terdahulu.
Testimoni Pemuda tentang Pemahaman Islam yang Damai dan Logis
Pengaruh Gus Baha terhadap pemahaman agama generasi muda dapat dirasakan secara personal oleh banyak individu. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh seorang pemuda berikut:
“Dulu saya sering merasa bingung dan takut dalam beragama. Banyak sekali larangan dan batasan yang terasa memberatkan. Tapi setelah mendengarkan ceramah Gus Baha, pandangan saya berubah drastis. Beliau mengajarkan Islam itu logis, penuh kasih sayang, dan tidak kaku. Saya jadi lebih tenang dan bisa memahami agama dengan akal sehat, tanpa harus kehilangan iman. Gus Baha membuka mata saya bahwa Islam itu indah dan membawa kedamaian, bukan ketakutan.”
Diskusi Pemuda tentang Pandangan Gus Baha terhadap Isu Sosial Kontemporer
Di sebuah kafe, tiga orang pemuda bernama Reza, Dian, dan Aldi sedang asyik berdiskusi, sambil menyeruput kopi mereka. Topik yang mereka bahas adalah pandangan Gus Baha terhadap isu-isu sosial yang sedang hangat.
Reza: “Kalian ingat kan Gus Baha pernah bahas soal pentingnya menjaga lingkungan? Beliau bilang, merusak alam itu sama saja merusak ciptaan Allah. Jadi, isu perubahan iklim itu bukan cuma masalah duniawi, tapi juga ada dimensi agamanya.”
Dian: “Betul sekali, Za. Aku juga ingat waktu beliau bicara tentang pentingnya toleransi antarumat beragama. Gus Baha selalu menekankan bahwa perbedaan itu fitrah, dan kita tidak boleh menghakimi keyakinan orang lain. Itu relevan banget dengan kondisi kita sekarang yang seringkali masih mudah terprovokasi isu SARA.”
Aldi: “Nah, yang paling menarik bagiku adalah pandangan Gus Baha soal ekonomi. Beliau sering menyinggung bahwa kekayaan itu amanah, dan kita harus memastikan pemerataan. Bukan cuma soal zakat, tapi juga etika bisnis dan tanggung jawab sosial. Itu kan menyentuh banget isu kesenjangan sosial yang sering kita lihat.”
Reza: “Benar, Gus Baha selalu berhasil menghubungkan ajaran Islam dengan realitas sosial. Jadi, agama itu bukan cuma ritual personal, tapi juga panduan untuk bermasyarakat dan bernegara. Itu yang membuat ajaran beliau terasa sangat relevan dan tidak ketinggalan zaman.”
Dian: “Aku setuju. Cara Gus Baha menguraikan masalah itu selalu bikin kita berpikir lebih dalam, tidak hanya permukaan. Beliau membuat kita sadar bahwa solusi untuk banyak masalah sosial sudah ada dalam ajaran Islam, tinggal bagaimana kita mau menggali dan mengaplikasikannya.”
Ulasan Penutup: Ponpes Gus Baha

Secara keseluruhan, pemikiran dan ajaran Gus Baha telah mengukir jejak mendalam dalam khazanah keilmuan Islam kontemporer. Pendekatannya yang rasional, kontekstual, dan moderat tidak hanya memperkaya metodologi tafsir, fiqih, serta tasawuf, tetapi juga memberikan inspirasi signifikan bagi model pendidikan pesantren dan membentuk cara pandang generasi muda terhadap Islam. Kehadiran beliau menjadi oase di tengah kompleksitas isu keagamaan modern, menawarkan pemahaman yang damai, logis, dan inklusif, sehingga relevansinya akan terus bergema dan menjadi rujukan penting bagi umat Muslim di masa mendatang.
Bagian Pertanyaan Umum (FAQ)
Di mana lokasi utama pondok pesantren Gus Baha?
Gus Baha berasal dari keluarga pesantren dan secara turun-temurun mengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA di Narukan, Rembang, Jawa Tengah.
Apakah Gus Baha memiliki pondok pesantren resmi yang ia pimpin?
Ya, Gus Baha adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA yang merupakan warisan dari ayahnya, KH. Nur Salim.
Bagaimana cara masyarakat umum bisa mengikuti pengajian Gus Baha?
Masyarakat umum dapat mengikuti pengajian Gus Baha melalui berbagai platform media sosial seperti YouTube dan Facebook, di mana banyak rekaman ceramah beliau tersedia. Beliau juga sesekali mengisi pengajian di berbagai daerah.
Apa makna gelar “Gus” pada nama Gus Baha?
“Gus” adalah panggilan kehormatan di lingkungan pesantren Jawa yang biasanya diberikan kepada putra seorang kiai atau ulama besar, menunjukkan keturunan atau kedekatan dengan figur ulama.



