
Sunnah Idul Adha panduan amalan penuh hikmah
October 8, 2025Doa setelah sholat dhuha sesuai sunnah panduan lengkap
October 8, 2025Apakah perbedaan shalat sunnah muakkad dan ghoiru muakkad sering menjadi pertanyaan di kalangan umat Muslim yang ingin mendalami ibadah. Memahami seluk-beluk shalat sunnah bukan hanya sekadar menambah pahala, melainkan juga memperkaya dimensi spiritual dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ini adalah perjalanan yang mengundang untuk menelusuri hikmah di balik setiap anjuran ibadah.
Dalam Islam, shalat sunnah memiliki kedudukan yang istimewa sebagai penyempurna ibadah wajib dan jembatan menuju keridaan Allah SWT. Namun, tidak semua shalat sunnah memiliki bobot hukum dan penekanan yang sama. Ada shalat sunnah yang sangat ditekankan dan ada pula yang sifatnya lebih fleksibel, masing-masing dengan keutamaan dan karakteristiknya sendiri. Pemahaman yang komprehensif akan perbedaan ini sangat esensial agar ibadah sunnah dapat dilaksanakan dengan lebih optimal dan penuh kesadaran.
Pengenalan Shalat Sunnah Muakkad

Shalat sunnah muakkad merupakan ibadah tambahan yang sangat dianjurkan dalam Islam, melengkapi shalat fardhu lima waktu. Ibadah ini memiliki kedudukan yang istimewa karena Rasulullah ﷺ sendiri senantiasa mengerjakannya dan menganjurkannya kepada umatnya. Landasan syariat untuk shalat sunnah muakkad berasal dari berbagai hadits shahih yang menjelaskan konsistensi Rasulullah dalam melaksanakannya, serta janji pahala besar bagi siapa saja yang turut mengamalkannya.
Secara definisi, shalat sunnah muakkad adalah shalat sunnah yang sangat ditekankan pelaksanaannya karena sering dikerjakan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun tidak sampai pada derajat wajib, meninggalkannya tanpa alasan syar’i yang kuat sangat tidak dianjurkan. Amalan ini menjadi jembatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menyempurnakan kekurangan dalam shalat fardhu.
Jenis-Jenis Shalat Sunnah Muakkad dan Waktu Pelaksanaannya
Terdapat beberapa jenis shalat sunnah yang termasuk dalam kategori muakkad, yang dianjurkan untuk rutin dilaksanakan sesuai dengan waktu-waktu yang telah ditetapkan. Melaksanakan shalat-shalat ini adalah bentuk kecintaan seorang Muslim kepada sunnah Nabi dan upaya meraih ridha Allah. Berikut adalah daftar shalat sunnah muakkad beserta waktu pelaksanaannya:
| Nama Shalat Sunnah | Waktu Pelaksanaan |
|---|---|
| Shalat Rawatib Qabliyah Subuh (2 rakaat) | Sebelum Shalat Subuh |
| Shalat Rawatib Qabliyah Zuhur (2 atau 4 rakaat) | Sebelum Shalat Zuhur |
| Shalat Rawatib Ba’diyah Zuhur (2 rakaat) | Setelah Shalat Zuhur |
| Shalat Rawatib Ba’diyah Magrib (2 rakaat) | Setelah Shalat Magrib |
| Shalat Rawatib Ba’diyah Isya (2 rakaat) | Setelah Shalat Isya |
| Shalat Dhuha (minimal 2 rakaat, maksimal 12 rakaat) | Sejak matahari terbit setinggi tombak (sekitar 15-20 menit setelah syuruq) hingga menjelang waktu Zuhur |
| Shalat Tahajud (minimal 2 rakaat) | Setelah Shalat Isya hingga menjelang Subuh, paling utama di sepertiga malam terakhir |
| Shalat Witir (minimal 1 rakaat, maksimal 11 rakaat) | Setelah Shalat Isya hingga menjelang Subuh, sebagai penutup shalat malam |
| Shalat Tarawih (di bulan Ramadhan) | Setelah Shalat Isya di bulan Ramadhan |
| Shalat Idul Fitri dan Idul Adha | Pagi hari di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha |
Keutamaan dan Pahala Khusus Shalat Sunnah Muakkad
Mengamalkan shalat sunnah muakkad membawa banyak keutamaan dan pahala yang besar di sisi Allah SWT. Ibadah ini menjadi salah satu sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, serta menunjukkan ketulusan dan kecintaan seorang hamba dalam beribadah. Keutamaan paling utama adalah sebagai penyempurna shalat fardhu, menambal kekurangan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan shalat wajib. Selain itu, shalat sunnah muakkad juga menjadi sebab turunnya rahmat, keberkahan, dan ampunan dosa.
Bagi mereka yang rutin mengerjakan shalat sunnah muakkad, Allah menjanjikan ganjaran berupa tempat tinggal di surga. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan ibadah sunnah ini dalam pandangan syariat. Keteraturan dalam mengamalkan shalat sunnah muakkad juga melatih kedisiplinan spiritual, memperkuat iman, dan menumbuhkan rasa syukur dalam hati seorang Muslim.
“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (Hadits Qudsi riwayat Bukhari)
Pengenalan Shalat Sunnah Ghairu Muakkad

Shalat sunnah dalam Islam memiliki berbagai tingkatan, salah satunya adalah shalat sunnah ghairu muakkad. Kategori ini mencakup amalan shalat yang sangat dianjurkan, namun tidak sekuat shalat sunnah muakkad dalam hal penekanannya. Meskipun demikian, shalat-shalat ini tetap membawa pahala besar dan menjadi jembatan bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengisi waktu dengan ibadah, serta menyempurnakan shalat fardhu.
Memahami shalat sunnah ghairu muakkad adalah langkah penting untuk memperkaya ibadah harian kita. Ia menawarkan fleksibilitas dan kesempatan untuk menambah timbangan amal kebaikan tanpa beban yang terlalu mengikat. Mari kita selami lebih jauh definisi, karakteristik, contoh-contoh, serta hikmah di balik anjuran pengerjaannya.
Definisi dan Karakteristik Utama Shalat Sunnah Ghairu Muakkad
Shalat sunnah ghairu muakkad secara harfiah berarti shalat sunnah yang tidak ditekankan atau tidak dikuatkan. Ini merujuk pada jenis shalat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, namun beliau tidak selalu melaksanakannya secara rutin atau tidak ada ancaman khusus bagi yang meninggalkannya. Kedudukannya berada di bawah shalat sunnah muakkad yang secara konsisten diamalkan Nabi Muhammad SAW dan memiliki penekanan lebih kuat.
Karakteristik utama shalat sunnah ghairu muakkad meliputi beberapa poin penting. Pertama, anjurannya berasal dari sunnah Nabi, baik melalui perkataan, perbuatan, maupun persetujuan beliau, namun tidak sekuat penekanan pada shalat sunnah muakkad. Kedua, tidak ada celaan atau dosa bagi orang yang tidak melaksanakannya, meskipun akan kehilangan pahala dan keutamaan. Ketiga, shalat ini sering kali berfungsi sebagai penyempurna kekurangan dalam shalat fardhu dan sebagai bentuk ibadah tambahan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan dan keinginan seorang muslim.
Sumber hukumnya banyak ditemukan dalam hadis-hadis Nabi yang menjelaskan keutamaan shalat-shalat tertentu tanpa adanya penekanan yang sangat kuat.
Contoh-contoh Shalat Sunnah Ghairu Muakkad
Ada beragam jenis shalat yang tergolong dalam kategori ghairu muakkad, memberikan banyak pilihan bagi umat muslim untuk menambah amalan ibadah mereka. Shalat-shalat ini menunjukkan betapa luasnya pintu kebaikan yang dibuka oleh syariat Islam. Berikut adalah beberapa contoh shalat sunnah ghairu muakkad yang umum dikenal:
- Shalat Rawatib Sebelum Ashar: Ini adalah shalat empat rakaat yang dilakukan sebelum shalat fardhu Ashar. Meskipun dianjurkan, Nabi Muhammad SAW tidak selalu melaksanakannya secara rutin, sehingga ia tergolong ghairu muakkad.
- Shalat Rawatib Sebelum Isya: Shalat dua rakaat yang dilaksanakan sebelum shalat fardhu Isya. Sama seperti sebelum Ashar, penekanannya tidak sekuat shalat rawatib muakkad lainnya.
- Shalat Dhuha: Shalat yang dikerjakan setelah terbit matahari hingga menjelang waktu Dzuhur, dengan jumlah rakaat minimal dua dan maksimal dua belas. Meskipun sangat dianjurkan dan memiliki banyak keutamaan, ada perbedaan pendapat ulama mengenai kategorinya, namun banyak yang menggolongkannya sebagai ghairu muakkad karena tidak selalu dikerjakan Nabi secara terus-menerus.
- Shalat Tahiyatul Masjid: Shalat dua rakaat yang dianjurkan untuk dikerjakan setiap kali seseorang masuk masjid, sebelum duduk. Ini adalah bentuk penghormatan kepada rumah Allah.
- Shalat Wudhu: Shalat dua rakaat yang dikerjakan setelah selesai berwudhu. Keutamaannya disebutkan dalam beberapa hadis, sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah setelah bersuci.
- Shalat Mutlak: Ini adalah shalat sunnah yang tidak terikat waktu, sebab, atau jumlah rakaat tertentu. Seorang muslim dapat melaksanakannya kapan saja di luar waktu-waktu terlarang, sebanyak rakaat yang diinginkan, semata-mata untuk mencari keridaan Allah.
Hikmah di Balik Anjuran Shalat Sunnah Ghairu Muakkad
Meskipun kedudukannya tidak sekuat shalat sunnah muakkad, anjuran untuk mengerjakan shalat sunnah ghairu muakkad mengandung hikmah yang mendalam. Salah satu hikmah utamanya adalah memberikan kesempatan kepada setiap muslim untuk meraih pahala tambahan dan meningkatkan kualitas ibadah mereka. Shalat-shalat ini berfungsi sebagai ‘penambal’ atau penyempurna bagi kekurangan yang mungkin terjadi pada shalat fardhu. Tidak jarang kita melakukan shalat fardhu dengan kurang khusyuk atau terburu-buru; shalat sunnah ghairu muakkad menjadi kesempatan untuk menutupi celah-celah tersebut.
Selain itu, anjuran ini juga mengajarkan fleksibilitas dalam beribadah. Dengan adanya shalat ghairu muakkad, seorang muslim dapat menyesuaikan ibadahnya dengan kondisi dan kemampuannya. Ini menunjukkan rahmat Allah yang tidak memberatkan hamba-Nya. Melaksanakan shalat-shalat ini juga merupakan bentuk ekspresi cinta dan ketaatan kepada Allah, di mana seorang hamba secara sukarela meluangkan waktu lebih untuk beribadah, bukan karena kewajiban yang mengikat, melainkan karena keinginan tulus untuk mendekat kepada Sang Pencipta.
Ini memperkuat ikatan spiritual dan menumbuhkan rasa syukur.
Perbedaan Suasana Pelaksanaan Shalat Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad, Apakah perbedaan shalat sunnah muakkad dan ghoiru muakkad
Ilustrasi visual tentang perbedaan suasana atau fokus saat melaksanakan shalat sunnah muakkad dibandingkan ghairu muakkad dapat dibayangkan sebagai berikut. Ketika seseorang mengerjakan shalat sunnah muakkad, seperti shalat rawatib sebelum Subuh atau setelah Dzuhur, seringkali terasa adanya rutinitas yang terstruktur dan terintegrasi dengan jadwal shalat fardhu. Suasana yang terbangun mungkin lebih terencana, dengan fokus pada pelaksanaan yang konsisten sebagai bagian dari kebiasaan ibadah yang kuat.
Memahami perbedaan shalat sunnah muakkad dan ghoiru muakkad krusial untuk kesempurnaan ibadah kita. Sebagaimana anjuran dalam menunaikan shalat sunnah, jangan lupakan pula keutamaan membaca shalawat pagi dan petang yang membawa berkah. Keduanya merupakan amalan penting, meskipun tingkat penekanan syariatnya membedakan antara shalat sunnah muakkad dan ghoiru muakkad.
Ada semacam kesadaran akan “kebiasaan Nabi” yang harus diikuti, menciptakan nuansa ketegasan dan keteraturan dalam hati.
Di sisi lain, saat melaksanakan shalat sunnah ghairu muakkad, seperti shalat Dhuha atau Tahiyatul Masjid, suasana yang terasa lebih santai dan personal. Ini adalah momen ibadah yang dipilih secara sadar dan sukarela, seringkali di luar jadwal wajib yang ketat. Fokusnya lebih pada kualitas interaksi pribadi dengan Allah, tanpa tekanan untuk konsistensi yang sama seperti muakkad. Misalnya, saat melakukan shalat Tahiyatul Masjid, ada perasaan penghormatan spontan yang muncul begitu memasuki masjid, atau saat shalat Dhuha, ada rasa syukur atas karunia pagi yang mendorong seseorang untuk bersujud.
Keseluruhan pengalaman ibadah ghairu muakkad cenderung terasa lebih seperti inisiatif pribadi yang lahir dari keinginan untuk menambah kebaikan, menciptakan kedekatan yang lebih intim dan reflektif dengan Tuhan.
Perbandingan Fundamental Shalat Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad

Dalam khazanah ibadah umat Islam, shalat sunnah memiliki kedudukan yang istimewa sebagai penyempurna dan penambah bekal pahala. Namun, tidak semua shalat sunnah memiliki tingkatan anjuran yang sama. Terdapat perbedaan mendasar antara shalat sunnah muakkad dan ghairu muakkad yang perlu dipahami agar seorang muslim dapat mengoptimalkan ibadahnya dan menempatkan prioritas dengan tepat. Pemahaman ini bukan hanya sekadar teori, melainkan memiliki implikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Tabel Perbandingan Shalat Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai perbedaan inti antara kedua jenis shalat sunnah ini, berikut adalah tabel perbandingan yang merangkum aspek hukum, penekanan syariat, dan konsekuensi apabila ditinggalkan. Tabel ini dirancang untuk memudahkan pemahaman terhadap karakteristik masing-masing.
| Aspek Perbandingan | Shalat Sunnah Muakkad | Shalat Sunnah Ghairu Muakkad |
|---|---|---|
| Hukum Syariat | Sangat dianjurkan (ditekankan), mendekati wajib. Pelaksanaannya konsisten dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. | Dianjurkan, namun tidak sekuat muakkad. Pelaksanaannya tidak selalu konsisten dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ atau hanya sesekali. |
| Penekanan | Memiliki penekanan kuat dalam syariat Islam, sering disebut sebagai “sunnah yang dikuatkan”. Meninggalkannya tanpa uzur syar’i dianggap tercela atau mengurangi kesempurnaan ibadah. | Memiliki penekanan yang lebih ringan. Meninggalkannya tidak dianggap tercela atau mengurangi kesempurnaan ibadah, namun melewatkan peluang pahala. |
| Konsekuensi Jika Ditinggalkan | Tidak berdosa, namun kehilangan pahala yang sangat besar dan tercela bagi yang terbiasa meninggalkannya tanpa alasan syar’i. Dapat menjadi indikasi kurangnya perhatian terhadap sunnah Nabi. | Tidak berdosa dan tidak tercela. Hanya kehilangan pahala tambahan yang diberikan bagi yang mengerjakannya. |
Implikasi Praktis Perbedaan Hukum dalam Kehidupan Sehari-hari
Memahami perbedaan hukum antara shalat sunnah muakkad dan ghairu muakkad memberikan panduan penting bagi seorang muslim dalam mengatur prioritas ibadahnya. Implikasi praktis dari perbedaan ini terlihat dalam beberapa aspek kehidupan sehari-hari:
- Prioritas Waktu dan Tenaga: Seorang muslim akan cenderung mendahulukan shalat sunnah muakkad karena anjurannya yang lebih kuat. Misalnya, menjaga shalat sunnah rawatib sebelum Subuh atau setelah Maghrib akan menjadi fokus utama, bahkan ketika waktu atau tenaga terbatas.
- Konsistensi Ibadah: Konsistensi dalam menjalankan shalat sunnah muakkad menjadi indikator kesungguhan seseorang dalam mengikuti sunnah Nabi. Ini membentuk kebiasaan baik dan memperkuat ikatan spiritual.
- Ketenangan Hati: Melaksanakan shalat sunnah muakkad secara rutin dapat memberikan ketenangan hati dan perasaan telah menjalankan bagian penting dari ajaran agama, meskipun tidak wajib.
- Penyempurna Kekurangan: Shalat sunnah muakkad juga berfungsi sebagai penyempurna kekurangan dalam shalat fardhu. Dengan melaksanakannya, seorang muslim berharap dapat menutupi celah-celah yang mungkin terjadi dalam shalat wajibnya.
Perbedaan ini membantu muslim untuk tidak merasa terbebani oleh semua jenis shalat sunnah, melainkan dapat memilih dan fokus pada yang paling ditekankan, sembari tetap berupaya melakukan yang lain jika ada kesempatan.
Panduan Prioritas dalam Mengerjakan Shalat Sunnah
Dengan memahami kedudukan shalat sunnah muakkad dan ghairu muakkad, seorang muslim dapat menyusun prioritas ibadahnya secara bijaksana. Panduan ini bertujuan untuk membantu mengoptimalkan pahala dan konsistensi dalam beribadah:
- Dahulukan Shalat Fardhu: Tentu saja, prioritas utama adalah menunaikan shalat fardhu lima waktu dengan sempurna, tepat waktu, dan berjamaah (bagi laki-laki). Shalat sunnah adalah pelengkap, bukan pengganti.
- Fokus pada Shalat Sunnah Rawatib Muakkad: Setelah shalat fardhu, berikan perhatian penuh pada shalat sunnah rawatib muakkad. Ini termasuk dua rakaat sebelum Subuh, dua atau empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat setelah Dzuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya. Usahakan untuk tidak meninggalkannya kecuali ada uzur yang syar’i.
- Lanjutkan dengan Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad: Jika shalat sunnah rawatib muakkad sudah rutin dilaksanakan, barulah lanjutkan dengan rawatib ghairu muakkad, seperti empat rakaat sebelum Ashar atau dua rakaat sebelum Isya. Ini menambah kebaikan dan pahala.
- Kerjakan Shalat Sunnah Lainnya: Setelah itu, jika ada waktu dan kesempatan, laksanakan shalat sunnah lainnya seperti shalat Dhuha, shalat Tahiyatul Masjid, shalat Wudhu, atau shalat malam (Tahajud). Shalat-shalat ini juga memiliki keutamaan besar.
- Konsistensi Lebih Utama dari Kuantitas: Lebih baik sedikit tapi konsisten daripada banyak tapi sporadis. Menjaga rutinitas dalam shalat sunnah muakkad akan memberikan dampak spiritual yang lebih besar.
Dengan panduan ini, seorang muslim dapat merancang jadwal ibadahnya agar lebih terstruktur dan berbuah maksimal, tanpa merasa terbebani.
Memahami perbedaan shalat sunnah muakkad dan ghoiru muakkad sangat membantu kita menyempurnakan ibadah. Sejalan dengan itu, mendalami amalan kebaikan seperti hadits sedekah anak yatim juga krusial untuk meraih keberkahan. Dengan begitu, kita bisa menyeimbangkan amalan fardhu dan sunnah, baik yang ditekankan maupun yang umum, demi pahala berlimpah.
“Shalat sunnah muakkad adalah ibadah tambahan yang sangat dianjurkan dan menjadi jembatan menuju kesempurnaan shalat fardhu, mencerminkan keteladanan Nabi ﷺ yang konsisten. Sementara itu, shalat sunnah ghairu muakkad, meskipun anjurannya lebih ringan, tetap merupakan ladang pahala yang luas bagi siapa pun yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Kedua jenis shalat sunnah ini, dengan tingkatan anjuran yang berbeda, sama-sama berperan penting dalam memperkaya spiritualitas seorang muslim dan hendaknya senantiasa dijaga sesuai kemampuan dan prioritas.”
Ringkasan Penutup: Apakah Perbedaan Shalat Sunnah Muakkad Dan Ghoiru Muakkad

Demikianlah gambaran lengkap mengenai perbedaan antara shalat sunnah muakkad dan ghairu muakkad, yang sejatinya saling melengkapi dalam memperkuat keimanan seorang Muslim. Kedua jenis shalat sunnah ini, dengan segala kekhususan dan keutamaannya, adalah anugerah yang patut disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Mengintegrasikan keduanya ke dalam rutinitas ibadah akan membentuk pribadi yang lebih taat, sabar, dan bersyukur.
Memahami prioritas dan karakteristik masing-masing shalat sunnah memungkinkan setiap individu untuk merancang ibadah yang seimbang dan berkelanjutan. Baik shalat sunnah muakkad yang sangat dianjurkan maupun ghairu muakkad yang memberikan fleksibilitas, keduanya adalah ladang pahala yang luas. Dengan konsistensi dan niat tulus, setiap sujud dan rukuk akan menjadi saksi atas ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT, membawa kedamaian hati dan keberkahan dalam hidup.
Panduan Pertanyaan dan Jawaban
Bolehkah shalat sunnah ghairu muakkad dikerjakan berjamaah?
Secara umum, shalat sunnah ghairu muakkad seperti shalat Mutlaq atau shalat Hajat lebih sering dikerjakan secara munfarid (sendirian). Namun, ada beberapa shalat sunnah ghairu muakkad yang boleh dikerjakan berjamaah seperti shalat Tarawih (meskipun sebagian ulama mengkategorikannya muakkad) atau shalat gerhana, tergantung jenis shalatnya.
Apakah ada qadha untuk shalat sunnah yang terlewat?
Tidak ada kewajiban qadha untuk shalat sunnah yang terlewat, baik muakkad maupun ghairu muakkad, karena sifatnya adalah anjuran bukan kewajiban. Namun, beberapa ulama membolehkan mengqadha shalat sunnah Rawatib jika terlewat dan ingin tetap mengerjakannya, biasanya dilakukan segera setelah teringat.
Apa hukumnya jika seseorang tidak pernah mengerjakan shalat sunnah muakkad?
Meninggalkan shalat sunnah muakkad tidak menyebabkan dosa karena hukumnya bukan wajib. Namun, pelakunya akan kehilangan banyak pahala dan keutamaan yang besar, serta melewatkan kesempatan untuk menyempurnakan ibadah wajibnya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Apakah shalat sunnah rawatib boleh digabungkan niatnya jika ada dua shalat sunnah pada waktu yang sama?
Para ulama umumnya berpendapat bahwa niat shalat sunnah sebaiknya tidak digabungkan. Setiap shalat sunnah memiliki niat dan keutamaan tersendiri. Namun, jika ada shalat sunnah yang serupa dalam waktu yang berdekatan, misalnya shalat tahiyatul masjid dan shalat rawatib, sebagian ulama membolehkan satu shalat mencakup niat yang lain (misal: dengan shalat rawatib sudah mencukupi tahiyatul masjid) jika dilakukan di masjid. Tetapi untuk dua shalat sunnah yang berbeda, sebaiknya tetap dilakukan secara terpisah.


