Sunnahnya Binatang Yang Akan Disembelih Dibaringkan Ke Arah Kiblat
October 8, 2025
Tawaf Sunnah Panduan Lengkap Ibadah Penuh Berkah
October 8, 2025Sunnah memotong kuku pada hari bukan sekadar praktik kebersihan biasa, melainkan sebuah tuntunan mulia dalam Islam yang mencerminkan perhatian agama terhadap fitrah manusia dan kesehatan spiritual. Praktik ini, yang seringkali dianggap sepele, ternyata memiliki dimensi hukum, keutamaan, dan tata cara yang mendalam, mengajarkan umat untuk senantiasa menjaga kesucian diri.
Lebih dari sekadar estetika, pembahasan mengenai sunnah memotong kuku pada hari akan mengulas dasar hukum syariatnya, merinci waktu-waktu yang dianjurkan serta yang sebaiknya dihindari, hingga memaparkan adab dan langkah-langkah praktis yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pemahaman komprehensif ini akan membuka wawasan tentang betapa indahnya ajaran Islam dalam mengatur setiap aspek kehidupan, termasuk hal-hal kecil sekalipun.
Hukum dan Keutamaan Memotong Kuku dalam Islam: Sunnah Memotong Kuku Pada Hari

Memotong kuku merupakan salah satu praktik kebersihan diri yang sangat dianjurkan dalam Islam, bahkan dianggap sebagai bagian dari fitrah manusia. Lebih dari sekadar menjaga penampilan, aktivitas sederhana ini memiliki dimensi spiritual dan syariat yang mendalam, mencerminkan perhatian agama terhadap kebersihan lahiriah dan batiniah umatnya. Mari kita telusuri lebih jauh mengenai dasar hukum, keutamaan, serta makna di balik sunnah memotong kuku ini.
Dasar Hukum Syariat Memotong Kuku dalam Islam
Dalam ajaran Islam, kebersihan adalah sebagian dari iman. Memotong kuku bukan sekadar kebiasaan pribadi, melainkan sebuah sunnah yang memiliki dasar kuat dalam syariat. Dalil-dalil yang mendukung anjuran ini banyak ditemukan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ, yang secara eksplisit menyebutkan pentingnya menjaga kebersihan kuku sebagai bagian dari fitrah manusia.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada lima perkara termasuk fitrah: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan memendekkan kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa memotong kuku adalah bagian dari fitrah, yaitu sifat-sifat alami yang sesuai dengan penciptaan manusia dan disukai oleh Allah. Selain itu, menjaga kebersihan kuku juga berkaitan erat dengan kesucian, terutama dalam konteks ibadah seperti wudu dan salat. Kuku yang panjang dan kotor dapat menjadi tempat bersarangnya najis, yang berpotensi membatalkan kesucian.
Keutamaan dan Manfaat Spiritual Menjaga Kebersihan Kuku
Menjaga kebersihan kuku bukan hanya soal estetika, tetapi juga membawa berbagai keutamaan dan manfaat spiritual yang signifikan bagi seorang Muslim. Praktik ini menunjukkan ketaatan pada sunnah Nabi dan kesadaran akan pentingnya menjaga diri agar selalu dalam keadaan suci dan bersih, baik secara fisik maupun spiritual. Berikut adalah beberapa keutamaan dan manfaat yang bisa didapatkan:
- Mendapatkan Pahala dan Kecintaan Allah: Melaksanakan sunnah Nabi Muhammad ﷺ adalah bentuk ibadah yang mendatangkan pahala dan menjadikan seorang Muslim lebih dicintai oleh Allah SWT.
- Menjaga Kesucian Diri: Kuku yang pendek dan bersih memudahkan seseorang untuk menjaga kebersihan tubuh secara menyeluruh, terutama saat berwudu. Ini penting agar ibadah sah dan diterima.
- Mencegah Penyakit: Kuku panjang sering menjadi sarang kuman dan bakteri. Dengan memotong kuku secara rutin, risiko penularan penyakit akibat kotoran yang menempel di bawah kuku dapat diminimalisir, sejalan dengan ajaran Islam yang mengutamakan kesehatan.
- Mencerminkan Akhlak Mulia: Kebersihan adalah cerminan dari akhlak yang baik. Seorang Muslim yang menjaga kebersihan dirinya, termasuk kuku, menunjukkan perhatiannya terhadap penampilan dan kerapian, yang juga merupakan bagian dari adab dalam Islam.
- Meningkatkan Rasa Percaya Diri: Tampil bersih dan rapi dapat meningkatkan rasa percaya diri seseorang dalam berinteraksi sosial, yang juga sejalan dengan anjuran Islam untuk berpenampilan terbaik.
Memotong Kuku sebagai Bagian dari Fitrah Manusia dalam Islam
Konsep fitrah dalam Islam mengacu pada sifat-sifat alami dan luhur yang melekat pada diri manusia sejak penciptaan, yang sejalan dengan tuntunan agama. Memotong kuku termasuk dalam fitrah ini karena beberapa alasan mendasar yang menunjukkan keselarasan antara ajaran Islam dan kebutuhan dasar manusia untuk hidup bersih dan sehat. Berikut adalah poin-poin mengapa praktik ini dianggap sebagai bagian dari fitrah:
- Keselarasan dengan Kebersihan Alami: Secara naluriah, manusia cenderung menyukai kebersihan. Kuku yang panjang dan kotor secara alami dianggap tidak bersih dan tidak nyaman.
- Aspek Kesehatan dan Higienitas: Fitrah manusia juga mencakup keinginan untuk menjaga kesehatan. Kuku yang panjang dapat menjadi tempat berkumpulnya kotoran dan kuman, yang membahayakan kesehatan.
- Pembeda dari Hewan: Memotong kuku juga membedakan manusia dari hewan yang kuku atau cakarnya tumbuh panjang secara alami dan digunakan untuk berburu atau pertahanan diri. Manusia, dengan akal dan kebudayaannya, menjaga kebersihan dan kerapian.
- Menjaga Keindahan dan Kerapian: Fitrah manusia juga menyukai keindahan. Kuku yang terawat dan rapi lebih enak dipandang dan menunjukkan perhatian terhadap diri sendiri.
- Sesuai dengan Syariat Ilahi: Allah SWT, sebagai Pencipta, menetapkan syariat yang sesuai dengan fitrah manusia. Anjuran memotong kuku adalah bagian dari syariat yang selaras dengan fitrah ini, membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik.
Pentingnya Kebersihan Kuku dalam Kehidupan Sehari-hari Seorang Muslim
Kebersihan kuku memiliki dampak praktis yang signifikan dalam rutinitas harian seorang Muslim. Bayangkan saja seorang Muslimah bernama Aisyah yang rajin menjaga kebersihan kukunya. Setiap pagi, sebelum memulai aktivitasnya, ia selalu memastikan kukunya bersih dan pendek. Ketika ia hendak berwudu untuk salat Subuh, tidak ada kotoran yang menghalangi air sampai ke kulit di bawah kuku, memastikan wudunya sempurna. Sepanjang hari, saat ia menyiapkan makanan untuk keluarganya, ia merasa tenang karena tahu tangannya bersih dari kuman yang mungkin bersarang di kuku panjang.
Saat ia berinteraksi dengan orang lain, ia merasa percaya diri dan menunjukkan adab yang baik. Bahkan, ketika ia beribadah atau membaca Al-Qur’an, hatinya lebih tenang karena ia merasa telah memenuhi salah satu tuntunan kebersihan dalam Islam. Kisah Aisyah ini menggambarkan bagaimana kebiasaan sederhana memotong kuku secara rutin bukan hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mendukung kesempurnaan ibadah dan menciptakan kenyamanan serta kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari sesuai ajaran agama.
Tata Cara dan Adab Memotong Kuku Sesuai Ajaran Nabi

Memotong kuku merupakan bagian dari fitrah manusia yang diajarkan dalam Islam. Selain menjaga kebersihan dan kesehatan, pelaksanaannya juga dianjurkan untuk mengikuti tata cara dan adab yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Melakukan praktik ini sesuai sunnah tidak hanya menambah nilai ibadah, tetapi juga memastikan kebersihan optimal dan kerapian diri yang mencerminkan pribadi Muslim yang baik.
Langkah-langkah Praktis Memotong Kuku Tangan dan Kaki, Sunnah memotong kuku pada hari
Untuk memastikan praktik memotong kuku dilakukan secara rapi dan sesuai anjuran, terdapat urutan langkah yang bisa diikuti, dimulai dari tangan kanan. Urutan ini membantu dalam menjaga konsistensi dan kebersihan, serta meneladani kebiasaan Nabi Muhammad ﷺ yang menyukai memulai segala sesuatu dari sisi kanan.
- Memulai dari Tangan Kanan: Awali dengan kuku jari telunjuk tangan kanan, kemudian lanjutkan ke jari tengah, jari manis, jari kelingking, dan terakhir ibu jari tangan kanan.
- Melanjutkan ke Tangan Kiri: Setelah selesai dengan tangan kanan, lanjutkan ke tangan kiri, dimulai dari kuku jari kelingking, kemudian jari manis, jari tengah, jari telunjuk, dan terakhir ibu jari tangan kiri.
- Memotong Kuku Kaki: Untuk kuku kaki, disunnahkan untuk memulai dari jari kelingking kaki kanan, bergerak ke ibu jari kaki kanan. Setelah itu, beralih ke kaki kiri dimulai dari ibu jari kaki kiri hingga jari kelingking kaki kiri.
- Ketelitian: Potonglah kuku hingga bersih dan rata, pastikan tidak ada bagian kuku yang tersisa atau tajam yang bisa menyebabkan luka atau infeksi. Potonglah secara lurus atau sedikit melengkung mengikuti bentuk alami kuku.
Adab dalam Memotong Kuku dan Penanganan Sisa Kuku
Selain urutan praktis, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan saat memotong kuku. Adab-adab ini mencerminkan penghormatan terhadap kebersihan dan kesucian, serta merupakan bagian dari etika personal seorang Muslim dalam menjaga diri dan lingkungannya.
- Kebersihan Sebelum dan Sesudah: Pastikan tangan dan alat pemotong kuku bersih sebelum digunakan. Setelah memotong, bersihkan sisa-sisa kuku dari tangan dan kaki Anda, serta bersihkan area tempat Anda memotong kuku.
- Menghindari Memotong Kuku di Tempat Tidak Layak: Hindari memotong kuku di tempat yang kotor atau di mana sisa kuku bisa tersebar dan mengotori lingkungan, seperti di tempat tidur atau di tempat umum.
- Pembuangan Sisa Kuku: Sisa kuku yang telah dipotong sebaiknya dikumpulkan dan dibuang ke tempat yang bersih, atau dianjurkan untuk dikubur. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap bagian tubuh manusia dan menghindari penyebaran kotoran.
- Tidak Membuang Sembarangan: Jangan membuang sisa kuku di toilet, saluran air, atau tempat-tempat umum lainnya yang bisa menimbulkan kesan jorok atau menyumbat saluran.
- Waktu Memotong Kuku: Dalam ajaran Islam, tidak ada larangan khusus mengenai waktu memotong kuku, baik siang maupun malam. Hal terpenting adalah menjaga kebersihan dan kerapian kuku secara berkala.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri, termasuk memotong kuku, sebagai bagian dari kesempurnaan iman. Beliau berkata, “Kebersihan adalah separuh dari iman, dan memotong kuku termasuk dalam kebersihan yang diperintahkan syariat untuk menjaga kesucian dan penampilan yang baik.” Ini menggarisbawahi bahwa kebersihan tidak hanya tentang fisik, tetapi juga spiritual.
Menjaga kebersihan diri melalui sunnah memotong kuku seringkali dikaitkan dengan hari-hari istimewa. Ini adalah praktik yang dianjurkan untuk kesehatan dan spiritualitas. Selain itu, memperkaya ibadah kita juga bisa dilakukan dengan melantunkan shalawat albarjanji yang penuh keindahan dan keberkahan. Kedua amalan ini, baik memotong kuku sesuai sunnah maupun bershalawat, sama-sama menguatkan iman dan ketaatan.
Peralatan yang Dianjurkan dan Perawatan Higienis
Penggunaan alat yang tepat dan terawat sangat penting untuk memastikan proses memotong kuku berjalan lancar, aman, dan higienis. Memilih alat yang bersih dan merawatnya dengan baik akan mencegah risiko infeksi, menjaga kesehatan kuku, dan memastikan alat tersebut awet untuk penggunaan jangka panjang.
Melaksanakan sunnah memotong kuku, khususnya pada hari yang dianjurkan, adalah bentuk perhatian kita terhadap kebersihan dan ajaran agama. Layaknya merawat diri, berbuat baik kepada sesama juga sangat mulia. Ketahui lebih lanjut tentang besarnya pahala sedekah yang bisa kita raih, sebagai penambah amalan saleh selain rutin menjaga kebersihan kuku.
- Gunting Kuku atau Pemotong Kuku: Pilihlah alat yang tajam, bersih, dan nyaman digenggam. Pastikan ukurannya sesuai untuk memotong kuku tangan dan kaki dengan presisi tanpa merusak jaringan di sekitarnya.
- Kikir Kuku: Berguna untuk menghaluskan tepi kuku setelah dipotong, mencegah kuku menjadi tajam, bergerigi, atau tersangkut pada pakaian.
- Sikat Kuku: Digunakan untuk membersihkan kotoran di bawah kuku sebelum atau sesudah proses pemotongan, memastikan tidak ada residu yang tertinggal.
- Tisu atau Kain Bersih: Untuk membersihkan alat sebelum dan sesudah penggunaan, serta untuk mengumpulkan sisa kuku agar tidak berceceran.
Untuk perawatan higienis peralatan memotong kuku, ikuti langkah-langkah berikut secara rutin:
- Pembersihan Rutin: Setelah setiap penggunaan, bersihkan gunting kuku atau pemotong kuku dengan air mengalir dan sabun. Pastikan tidak ada sisa kuku atau kotoran yang menempel, lalu keringkan dengan sempurna untuk mencegah karat.
- Desinfeksi Berkala: Sesekali, desinfeksi alat dengan alkohol atau cairan antiseptik untuk membunuh bakteri dan kuman yang mungkin menempel, terutama jika alat tersebut digunakan oleh lebih dari satu orang (meskipun tidak disarankan).
- Penyimpanan yang Tepat: Simpan alat-alat di tempat yang kering, bersih, dan jauh dari kelembaban untuk mencegah karat dan kontaminasi. Kotak penyimpanan khusus sangat dianjurkan.
- Hindari Berbagi Alat: Sebaiknya tidak berbagi gunting kuku dengan orang lain untuk menghindari penyebaran bakteri, jamur kuku, atau infeksi lainnya yang dapat menular melalui kontak langsung.
Akhir Kata

Pada akhirnya, memahami dan mengamalkan sunnah memotong kuku pada hari adalah wujud nyata dari penghormatan terhadap diri sendiri dan ajaran agama. Lebih dari sekadar menjaga kebersihan fisik, praktik ini mengukuhkan kesadaran akan pentingnya kesucian batin, menumbuhkan kedisiplinan, dan mendekatkan diri pada teladan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, setiap Muslim diajak untuk tidak hanya tampil bersih secara lahiriah, tetapi juga meraih keutamaan spiritual yang terkandung dalam setiap kuku yang dipotong sesuai tuntunan.
Detail FAQ
Apakah memotong kuku membatalkan wudu?
Tidak, memotong kuku tidak membatalkan wudu. Wudu hanya batal karena hadas besar atau kecil seperti buang air, kentut, atau tidur nyenyak.
Bagaimana jika seseorang tidak bisa memotong kukunya sendiri?
Jika seseorang tidak mampu memotong kukunya sendiri karena alasan tertentu, boleh meminta bantuan orang lain untuk memotongkannya. Yang penting adalah kuku tetap terjaga kebersihannya sesuai sunnah.
Apakah ada doa khusus saat memotong kuku?
Tidak ada doa khusus yang ma’tsur (diriwayatkan dari Nabi SAW) untuk dibaca saat memotong kuku. Namun, seorang Muslim dapat membaca basmalah (Bismillah) sebagai bentuk memulai segala aktivitas baik.
Apakah boleh memotong kuku saat haid?
Boleh, wanita yang sedang haid diizinkan untuk memotong kuku. Tidak ada larangan khusus dalam syariat Islam yang melarang wanita haid untuk memotong kuku.
Apakah kuku yang dipotong harus dikubur?
Meskipun ada beberapa pendapat ulama yang menganjurkan untuk mengubur potongan kuku sebagai bentuk penghormatan, tidak ada dalil syar’i yang kuat yang mewajibkannya. Boleh juga dibuang di tempat sampah, asalkan tidak berserakan dan tetap menjaga kebersihan.



