
Sedekah Al-Quran Keutamaan Manfaat Tata Cara
October 8, 2025
Sedekah Beras Wujudkan Kesejahteraan Bersama
October 8, 2025Sedekah Laut Cilacap merupakan sebuah perayaan adat yang kaya akan makna, mencerminkan kearifan lokal masyarakat pesisir dalam menjaga harmoni dengan alam dan leluhur. Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan manifestasi rasa syukur yang mendalam atas berkah laut yang melimpah, sekaligus permohonan keselamatan bagi para nelayan saat mengarungi samudra. Perayaan ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Cilacap yang tak lekang oleh waktu, di mana nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas terjalin erat.
Selama berabad-abad, praktik ini telah membentuk lanskap sosial dan budaya masyarakat Cilacap, di mana setiap tahapan upacara dan jenis sesaji yang dipersembahkan memiliki simbolisme mendalam. Dari persiapan yang melibatkan gotong royong seluruh elemen masyarakat hingga pelepasan sesaji ke tengah laut, semuanya adalah wujud penghormatan terhadap penguasa samudra. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikannya tontonan sekaligus tuntunan yang sarat akan nilai-nilai luhur dan filosofi hidup.
Asal Usul dan Warisan Budaya Sedekah Laut Cilacap

Sedekah Laut di Cilacap merupakan sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat pesisir, mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam, khususnya laut. Ritual tahunan ini bukan sekadar perayaan, melainkan manifestasi rasa syukur, penghormatan, dan harapan yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap pelaksanaannya membawa nilai-nilai luhur yang merefleksikan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan hidup.
Latar Belakang Historis dan Tujuan Awal Tradisi
Praktik Sedekah Laut di Cilacap diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-18, berawal dari komunitas nelayan yang sangat bergantung pada hasil laut untuk kelangsungan hidup. Pada masa itu, laut seringkali dianggap sebagai entitas hidup yang memiliki kekuatan besar, mampu memberi rezeki melimpah sekaligus mendatangkan bencana. Oleh karena itu, tradisi ini muncul sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kelancaran rezeki bagi para nelayan.Tujuan utamanya adalah sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia laut, serta memohon perlindungan dari segala mara bahaya di tengah samudra.
Selain itu, Sedekah Laut juga bertujuan untuk menolak bala dan memastikan hasil tangkapan ikan yang melimpah pada musim-musim berikutnya, menjaga harmoni antara manusia dan ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan.
Kepercayaan Lokal yang Melandasi Sedekah Laut
Tradisi Sedekah Laut di Cilacap sangat kental dengan kepercayaan lokal yang telah dianut masyarakat selama berabad-abad. Masyarakat pesisir percaya bahwa laut memiliki “penjaga” atau entitas spiritual yang harus dihormati agar tidak murka dan memberikan berkah. Kepercayaan ini merupakan perpaduan antara ajaran agama, animisme, dan dinamisme yang membentuk filosofi hidup mereka.Mereka meyakini pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghargai setiap anugerah yang diberikan.
Penghormatan terhadap laut diwujudkan melalui berbagai ritual dan persembahan, sebagai simbol kerendahan hati manusia di hadapan kekuatan alam. Sebuah pepatah lokal sering diucapkan untuk menggambarkan kepercayaan ini:
“Laut iku ibu, kudu dihormati lan dijaga. Yen ora, bakal ngamuk lan njaluk tumbal.” (Laut itu ibu, harus dihormati dan dijaga. Jika tidak, akan mengamuk dan meminta tumbal.)
Pepatah ini menegaskan betapa pentingnya menjaga etika dan moral dalam berinteraksi dengan lingkungan laut.
Evolusi dan Adaptasi Budaya Sedekah Laut
Seiring berjalannya waktu, tradisi Sedekah Laut di Cilacap mengalami berbagai perubahan dan adaptasi budaya. Dari yang awalnya merupakan ritual murni untuk nelayan, kini telah berkembang menjadi sebuah festival budaya yang menarik wisatawan, tanpa menghilangkan esensi spiritualnya. Adaptasi ini menunjukkan resiliensi budaya dalam menghadapi modernisasi.Beberapa perubahan signifikan yang terjadi meliputi:
- Keterlibatan Pemerintah Daerah: Sedekah Laut kini menjadi agenda pariwisata daerah, dengan dukungan penuh dari pemerintah setempat dalam penyelenggaraan dan promosi.
- Partisipasi Masyarakat yang Lebih Luas: Tidak hanya nelayan, seluruh lapisan masyarakat Cilacap turut serta dalam kemeriahan acara, dari anak-anak hingga orang dewasa, baik sebagai peserta maupun penonton.
- Penambahan Elemen Hiburan: Selain ritual inti, acara Sedekah Laut seringkali dilengkapi dengan pertunjukan seni tradisional, pameran produk lokal, dan berbagai lomba yang menambah semarak perayaan.
- Peningkatan Kesadaran Lingkungan: Meskipun beradaptasi, pesan tentang menjaga kelestarian laut semakin ditekankan, mengintegrasikan nilai-nilai konservasi dalam tradisi.
Evolusi ini membuktikan bahwa tradisi dapat bertahan dan relevan di era modern dengan cara merangkul perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Gambaran Perayaan Sedekah Laut di Masa Lampau
Suasana perayaan Sedekah Laut di masa lampau adalah sebuah pemandangan yang sarat akan kesakralan dan kebersamaan. Sejak pagi buta, aroma kemenyan dan bunga-bunga sesaji sudah memenuhi udara, bercampur dengan suara gamelan Jawa yang mengalun syahdu. Para sesepuh adat dan tokoh masyarakat mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, seperti beskap atau kebaya dengan kain batik bermotif klasik, berjalan dengan khidmat.Persembahan tradisional, yang dikenal sebagai “jolen”, diarak dari daratan menuju perahu-perahu yang telah disiapkan.
Jolen ini berupa replika perahu kecil atau miniatur rumah yang dihias dengan berbagai hasil bumi, makanan tradisional, dan kepala kerbau atau kambing yang menjadi inti sesaji. Setiap jolen dihias dengan janur kuning, bunga-bunga, dan berbagai rupa jajanan pasar, seperti wajik, jenang, dan tumpeng nasi kuning yang dihias indah. Nelayan dan masyarakat yang mengiringi arak-arakan jolen juga mengenakan pakaian tradisional, seringkali berupa lurik atau pakaian sederhana namun rapi, menunjukkan rasa hormat terhadap ritual.Puncak perayaan terjadi ketika jolen-jolen tersebut dilarung ke tengah laut, diiringi doa-doa yang dipanjatkan oleh sesepuh dan harapan dari seluruh masyarakat.
Pemandangan puluhan perahu nelayan yang berlayar perlahan menuju tengah laut, membawa persembahan dengan penuh keyakinan, menciptakan atmosfer yang sangat mengharukan dan mendalam. Desiran ombak seolah menjadi saksi bisu dari janji dan harapan yang terukir dalam setiap Sedekah Laut.
Ritual dan Persembahan dalam Sedekah Laut Cilacap

Sedekah Laut di Cilacap merupakan sebuah rangkaian ritual yang dijalankan dengan penuh khidmat dan makna oleh masyarakat pesisir. Prosesi ini melibatkan serangkaian tahapan yang terstruktur, mulai dari persiapan yang matang hingga pelepasan persembahan ke tengah laut, semuanya dilakukan sebagai bentuk ekspresi spiritual dan harapan. Setiap elemen dalam upacara ini memiliki simbolisme mendalam yang merefleksikan hubungan erat antara masyarakat nelayan dengan sumber kehidupan mereka, laut.
Tahapan Upacara Sedekah Laut, Sedekah laut cilacap
Pelaksanaan Sedekah Laut tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui serangkaian tahapan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Setiap langkah dalam upacara ini memiliki fungsi dan makna tersendiri, memastikan keseluruhan proses berjalan lancar dan sesuai tradisi.
-
Persiapan Awal: Tahap ini dimulai jauh hari sebelum puncak acara. Masyarakat, terutama para nelayan dan sesepuh adat, berkumpul untuk menentukan tanggal pelaksanaan yang dianggap baik, biasanya bertepatan dengan bulan Suro dalam kalender Jawa. Persiapan meliputi pengumpulan dana, pemilihan bahan sesaji seperti kepala kerbau, ayam, jajan pasar, dan hasil bumi, serta pembuatan miniatur perahu atau ancak yang akan digunakan untuk menghanyutkan persembahan.
Selama periode ini, berbagai doa dan tirakat juga kerap dilakukan.
- Prosesi Arak-arakan: Pada hari H, seluruh persembahan yang telah disiapkan diarak dalam sebuah pawai meriah dari titik kumpul (seringkali balai desa atau rumah sesepuh adat) menuju lokasi pelepasan di pantai atau pelabuhan. Arak-arakan ini biasanya diiringi oleh musik tradisional seperti gamelan atau drumband, tarian, dan diikuti oleh ribuan warga yang antusias. Kepala kerbau yang menjadi sesaji utama seringkali ditempatkan di bagian paling depan atau di atas kendaraan hias yang megah.
- Doa Bersama dan Ritual di Tepi Laut: Setibanya di lokasi pelepasan, seluruh persembahan ditata rapi di tepi pantai atau dermaga. Para pemuka agama dan sesepuh adat memimpin doa bersama, memohon keselamatan, keberkahan hasil laut, serta perlindungan dari segala musibah. Ritual ini juga bisa mencakup pembacaan mantra atau kidung-kidung Jawa kuno yang mengiringi prosesi. Suasana khidmat menyelimuti area, dengan seluruh partisipan fokus pada tujuan spiritual upacara.
- Pelepasan Sesaji ke Laut: Ini adalah puncak dari seluruh rangkaian acara. Sesaji utama, termasuk kepala kerbau dan seluruh persembahan lainnya yang telah diletakkan di dalam ancak atau perahu miniatur, secara simbolis dihanyutkan ke tengah laut. Prosesi ini seringkali dilakukan menggunakan perahu nelayan yang dihias khusus, menuju titik tertentu di lepas pantai. Pelepasan ini melambangkan penyerahan dan permohonan kepada penguasa laut agar senantiasa melimpahkan rezeki dan menjaga keselamatan para nelayan.
Makna Simbolis Persembahan
Setiap jenis persembahan yang digunakan dalam Sedekah Laut memiliki makna filosofis dan simbolis yang kuat bagi masyarakat setempat. Benda-benda ini bukan sekadar objek, melainkan representasi dari harapan, rasa syukur, dan penghormatan.
- Kepala Kerbau: Sebagai sesaji utama, kepala kerbau melambangkan kurban yang paling berharga. Simbolisme ini terkait dengan harapan akan kesuburan, kemakmuran, dan keselamatan yang berlimpah, baik di daratan maupun di lautan. Ia juga menjadi lambang pengorbanan tertinggi untuk memohon kelancaran rezeki dan perlindungan dari marabahaya.
- Jajan Pasar: Berbagai jenis kue tradisional atau “jajan pasar” yang disajikan melambangkan kemakmuran, keberagaman, dan keharmonisan. Warna-warni dan bentuknya yang bervariasi mencerminkan kekayaan alam dan rezeki yang melimpah, serta harapan agar kehidupan masyarakat selalu dipenuhi dengan kebahagiaan dan kecukupan.
- Hasil Bumi: Persembahan berupa hasil bumi seperti beras, buah-buahan, sayuran, dan rempah-rempah merupakan wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh daratan. Ini juga melengkapi persembahan dari darat untuk lautan, menunjukkan keseimbangan antara dua sumber kehidupan utama masyarakat pesisir.
- Persembahan Lainnya: Selain yang utama, seringkali ada persembahan lain seperti ayam hidup atau yang sudah dimasak, bunga-bunga setaman, dupa, dan rokok. Ayam dapat melambangkan kehidupan dan keberanian, bunga sebagai keindahan dan keharuman doa, sementara dupa dan rokok sering digunakan sebagai media penghubung spiritual dalam ritual tradisional.
Variasi Pelaksanaan Ritual Antar Desa Nelayan
Meskipun inti dari Sedekah Laut sama, terdapat beberapa variasi dalam pelaksanaan ritual antara satu desa nelayan dengan desa nelayan lain di sepanjang pesisir Cilacap. Perbedaan ini seringkali dipengaruhi oleh tradisi lokal, interpretasi adat, atau kondisi geografis masing-masing wilayah.
| Aspek Ritual | Desa Nelayan Utara Cilacap (Contoh) | Desa Nelayan Tengah Cilacap (Contoh) | Desa Nelayan Selatan Cilacap (Contoh) |
|---|---|---|---|
| Waktu Pelaksanaan | Umumnya bulan Suro, tanggal ganjil | Bisa bergeser mengikuti musim tangkap ikan | Biasanya di awal musim panen hasil laut |
| Jenis Sesaji Utama | Kepala kerbau, nasi tumpeng besar | Kepala kambing, aneka ikan bakar | Kepala kerbau, hasil laut segar |
| Rute Arak-arakan | Mengelilingi kampung, lalu ke pelabuhan besar | Langsung menuju muara sungai atau dermaga kecil | Dimulai dari pusat desa, berakhir di teluk |
| Peran Pemimpin Adat | Sesepuh adat dan tokoh masyarakat | Juru kunci atau dukun laut setempat | Tetua desa dan pemuka agama |
Kisah dan Pengalaman Partisipan
Prosesi Sedekah Laut selalu menyisakan kesan mendalam bagi mereka yang terlibat langsung. Cerita-cerita ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan masyarakat dengan tradisi dan laut.Salah satu sesepuh nelayan dari pesisir Cilacap, Bapak Hardjo, menceritakan pengalamannya:
“Sejak kecil saya sudah ikut Sedekah Laut. Dulu, perahu-perahu dihias sangat meriah, dan semua warga ikut mengarak sesaji dengan semangat. Ada rasa haru setiap kali melihat kepala kerbau itu dihanyutkan, seolah-olah kita menyerahkan sebagian diri kita untuk lautan, berharap ia membalasnya dengan rezeki yang melimpah. Itu bukan hanya ritual, tapi bagian dari jiwa kami.”
Seorang partisipan muda, Ibu Siti, yang baru beberapa tahun terakhir aktif membantu persiapan, juga berbagi pandangannya:
“Awalnya saya hanya ikut-ikut, tapi setelah beberapa kali terlibat dalam pembuatan sesaji dan arak-arakan, saya merasakan getaran spiritualnya. Terutama saat doa bersama di tepi laut, suasana khidmatnya membuat hati terasa tenang. Ini adalah cara kami berterima kasih kepada laut yang telah menghidupi keluarga kami turun-temurun, dan itu terasa sangat personal.”
Pengaruh dan Keberlanjutan Sedekah Laut bagi Masyarakat Cilacap

Tradisi Sedekah Laut di Cilacap bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah pilar penting yang menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Lebih dari sekadar ungkapan syukur, tradisi ini telah membentuk jalinan erat antarwarga, memperkuat identitas budaya, serta memberikan dampak nyata pada roda perekonomian lokal. Keberlangsungannya menunjukkan bagaimana sebuah warisan leluhur dapat terus relevan dan bermanfaat di tengah dinamika zaman.
Tradisi sedekah laut di Cilacap adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki bahari. Semangat berbagi ini mengingatkan kita akan pentingnya kebaikan dalam hidup, tak terkecuali sedekah kepada orang tua yang merupakan wujud bakti tulus. Melalui sedekah laut ini, diharapkan keberkahan dan keselamatan selalu menyertai para nelayan Cilacap dalam mencari nafkah.
Dampak Sosial dan Ekonomi Sedekah Laut bagi Masyarakat Pesisir
Perayaan Sedekah Laut secara signifikan memengaruhi kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir di Cilacap, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Secara sosial, tradisi ini menjadi perekat kuat yang mempersatukan warga. Momen persiapan hingga pelaksanaan Sedekah Laut adalah ajang gotong royong, di mana perbedaan latar belakang seolah sirna digantikan oleh semangat kebersamaan. Ikatan persaudaraan dan rasa memiliki terhadap tradisi ini semakin menguat, menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan saling mendukung.Dari sisi ekonomi, Sedekah Laut membawa angin segar bagi pelaku usaha mikro dan kecil di Cilacap.
Selama masa persiapan, permintaan akan bahan-bahan kebutuhan untuk sesaji, dekorasi, hingga kuliner khas meningkat drastis. Para pedagang lokal, pengrajin, dan penyedia jasa turut merasakan dampak positifnya. Acara puncak Sedekah Laut juga seringkali menarik perhatian wisatawan domestik, yang pada gilirannya menggerakkan sektor pariwisata lokal, termasuk penginapan, rumah makan, dan penjualan suvenir, meskipun dalam skala yang terukur.
Peran Pemerintah Daerah dan Komunitas dalam Pelestarian Tradisi
Keberlanjutan Sedekah Laut tidak lepas dari sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan komunitas lokal. Pemerintah Kabupaten Cilacap menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian tradisi ini melalui berbagai dukungan konkret. Ini bisa berupa alokasi anggaran untuk penyelenggaraan acara, bantuan fasilitas, hingga promosi di tingkat regional maupun nasional sebagai bagian dari agenda pariwisata budaya daerah.Selain itu, peran aktif komunitas, terutama para sesepuh adat dan tokoh masyarakat, sangat vital.
Mereka adalah penjaga utama nilai-nilai luhur Sedekah Laut, yang secara turun-temurun mengajarkan dan mencontohkan cara-cara pelaksanaannya. Pembentukan panitia lokal yang melibatkan berbagai elemen masyarakat menjadi bukti nyata bagaimana komunitas bergotong royong mengelola dan memastikan setiap detail perayaan berjalan lancar, sekaligus menjadi wadah regenerasi agar tradisi ini tidak lekang oleh waktu.
Sedekah Laut di Cilacap merupakan tradisi turun-temurun sebagai wujud syukur nelayan atas rezeki dari laut. Saat kita memberikan sedekah, penting juga untuk memahami nilai-nilai spiritual penerimanya, termasuk melalui doa menerima sedekah yang penuh berkah. Praktik ini menegaskan bahwa setiap Sedekah Laut di Cilacap bukan sekadar ritual, melainkan juga cerminan keikhlasan dan harapan akan keberkahan.
Semangat Gotong Royong dalam Persiapan Sedekah Laut
Suasana persiapan Sedekah Laut di Cilacap selalu dipenuhi dengan gairah dan semangat kebersamaan yang luar biasa. Di setiap sudut kampung pesisir, tampak wajah-wajah ceria dan penuh konsentrasi, berpadu dalam aktivitas gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Para ibu-ibu dengan cekatan merangkai bunga dan janur, tangan mereka bergerak lincah menciptakan ornamen-ornamen indah untuk sesaji, diiringi celotehan dan tawa renyah yang mengisi udara.
Sementara itu, para bapak-bapak terlihat sibuk mengecat dan menghias perahu, mengangkat bahan-bahan kebutuhan dengan sigap, atau memperbaiki jaring yang akan digunakan. Keringat yang membasahi dahi tidak sedikit pun mengurangi semangat mereka; justru, ekspresi wajah yang penuh kebanggaan terpancar jelas, menyiratkan rasa memiliki yang mendalam terhadap tradisi ini. Anak-anak pun tak mau ketinggalan, mereka berlarian kecil, sesekali membantu dengan tugas-tugas ringan, mata mereka berbinar menyaksikan hiruk pikuk persiapan yang akan segera mencapai puncaknya.
Aroma masakan tradisional yang mulai mengepul dari dapur-dapur warga semakin menambah semarak suasana, menciptakan harmoni yang tak terlupakan.
Potensi Sedekah Laut sebagai Daya Tarik Wisata Budaya
Sedekah Laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya yang unik, tanpa sedikit pun mengurangi nilai sakral dan esensinya. Pengembangan ini perlu dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati dan berkelanjutan, mengedepankan edukasi dan pengalaman otentik bagi pengunjung, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal. Berikut adalah beberapa potensi pengembangan yang dapat dipertimbangkan:
- Pengembangan paket wisata edukasi yang memungkinkan wisatawan untuk memahami makna dan prosesi Sedekah Laut, termasuk interaksi dengan masyarakat lokal.
- Penyediaan lokakarya (workshop) pembuatan sesaji tradisional atau kerajinan tangan khas pesisir yang terkait dengan Sedekah Laut, memberikan pengalaman partisipatif.
- Promosi kuliner khas Cilacap yang disajikan selama perayaan Sedekah Laut, menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman budaya.
- Penyediaan informasi dan panduan yang jelas bagi wisatawan mengenai etika dan tata krama selama mengikuti prosesi, untuk menghormati nilai-nilai sakral tradisi.
- Pengembangan pusat informasi atau museum mini yang mendokumentasikan sejarah, nilai-nilai, dan artefak terkait Sedekah Laut, sebagai sarana edukasi berkelanjutan.
- Kolaborasi dengan pelaku pariwisata lokal untuk menciptakan rute kunjungan yang terintegrasi, termasuk mengunjungi sentra nelayan dan pasar tradisional.
- Pemberdayaan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata atau penyedia jasa lainnya, memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh komunitas.
Ringkasan Penutup

Sedekah Laut Cilacap lebih dari sekadar perayaan; ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan masyarakat pesisir. Dengan segala dinamika dan evolusinya, tradisi ini terus menjadi pilar identitas, pengikat kebersamaan, dan sumber inspirasi bagi pengembangan budaya lokal. Melalui upaya pelestarian yang berkelanjutan dan adaptasi yang bijaksana, Sedekah Laut Cilacap diharapkan akan terus memancarkan pesonanya, baik sebagai warisan sakral yang dihormati maupun daya tarik wisata budaya yang unik, menarik minat banyak orang untuk memahami kekayaan tradisi Nusantara.
FAQ Terkini: Sedekah Laut Cilacap
Kapan Sedekah Laut Cilacap biasanya dilaksanakan?
Umumnya Sedekah Laut Cilacap dilaksanakan pada bulan Sura atau Muharram dalam kalender Jawa, namun tanggal pastinya bisa berbeda antarwilayah tergantung kesepakatan adat setempat dan hasil musyawarah para sesepuh.
Siapa saja yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Sedekah Laut?
Pelaksanaan Sedekah Laut melibatkan seluruh elemen masyarakat pesisir, terutama para nelayan, tokoh adat, pemerintah daerah, dan warga sekitar yang ingin turut serta dalam melestarikan tradisi ini dengan semangat gotong royong.
Apakah ada larangan tertentu selama pelaksanaan Sedekah Laut?
Ya, biasanya ada larangan untuk tidak melaut atau melakukan aktivitas yang dianggap mengganggu kesakralan upacara pada hari-H atau beberapa hari sebelumnya, tergantung pada ketentuan adat setempat yang berlaku.
Bagaimana Sedekah Laut Cilacap dapat berkontribusi pada pariwisata?
Tradisi ini menarik wisatawan yang ingin menyaksikan langsung keunikan budaya lokal, prosesi adat yang sakral, dan merasakan atmosfer kebersamaan masyarakat pesisir, menjadikannya daya tarik wisata budaya yang otentik.
Apakah Sedekah Laut Cilacap memiliki dampak lingkungan?
Persembahan yang digunakan umumnya berupa bahan alami dan biodegradable, sehingga dampak lingkungannya relatif minimal. Masyarakat setempat memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan laut selama dan setelah upacara.



