
Dzikir Shalawat Nabi yang Benar Esensi dan Konsistensi
October 8, 2025
Hadits tentang bershalawat pahala bentuk waktu
October 8, 2025Hadits tentang membaca shalawat membuka gerbang pemahaman kita tentang salah satu amalan ibadah yang paling mulia dan penuh berkah dalam Islam. Shalawat, sebuah bentuk penghormatan dan doa kepada Nabi Muhammad ﷺ, bukan sekadar lantunan lisan, melainkan manifestasi cinta, ketaatan, dan harapan akan syafaat di akhirat. Amalan ini memiliki kedudukan istimewa yang dianjurkan secara langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an dan diperkuat melalui sabda-sabda Rasulullah ﷺ.
Pembahasan ini akan mengupas tuntas berbagai aspek terkait shalawat, mulai dari keutamaan dan balasan yang dijanjikan, tata cara serta waktu-waktu mustajab untuk bershalawat, hingga ragam redaksi shalawat yang bersumber dari riwayat sahih. Melalui pemahaman yang komprehensif ini, diharapkan umat Islam dapat mengamalkan shalawat dengan penuh kesadaran, kekhusyukan, dan mendapatkan limpahan rahmat serta keberkahan dari Allah SWT.
Tata Cara dan Waktu Mustajab Bershalawat

Bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah amalan mulia yang membawa keberkahan dan pahala berlimpah. Agar amalan ini semakin bermakna dan diterima di sisi Allah SWT, penting bagi kita untuk memahami tata cara dan adab yang dianjurkan, serta mengetahui waktu-waktu istimewa di mana shalawat lebih mustajab. Pemahaman yang benar akan membimbing kita dalam meraih keutamaan bershalawat secara maksimal, sesuai dengan tuntunan syariat.
Adab dan Prosedur Bershalawat Sesuai Sunnah
Membaca shalawat bukan sekadar melafalkan untaian kata, melainkan sebuah bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, ada beberapa adab dan prosedur yang sebaiknya diperhatikan agar shalawat yang kita panjatkan memiliki kualitas dan kekhusyukan yang optimal. Dengan memperhatikan adab ini, diharapkan hati kita semakin terhubung dengan pribadi mulia Nabi Muhammad ﷺ.
- Niat yang Ikhlas: Sebelum melafalkan shalawat, hadirkan niat yang tulus semata-mata karena Allah SWT dan sebagai wujud kecintaan serta pengagungan kepada Rasulullah ﷺ. Niat yang bersih akan menjadi pondasi diterimanya amal ibadah.
- Kekhusyukan dan Kehadiran Hati: Usahakan untuk bershalawat dengan hati yang hadir, merenungi makna dari setiap lafal yang diucapkan. Hindari bershalawat hanya sekadar di lisan tanpa ada perenungan dalam hati, karena kekhusyukan akan meningkatkan kualitas ibadah.
- Posisi yang Tenang dan Sopan: Meskipun tidak ada ketentuan posisi khusus yang wajib, bershalawat dengan posisi yang tenang dan sopan, seperti duduk atau berdiri dengan khidmat, akan membantu memfokuskan pikiran dan hati. Menghadap kiblat saat bershalawat juga merupakan adab yang baik.
- Bersuci: Dianjurkan untuk bersuci atau berwudu sebelum bershalawat, terutama jika ingin bershalawat dalam jumlah banyak atau dalam keadaan beribadah lain. Ini menunjukkan penghormatan kita terhadap amalan mulia tersebut.
- Suara yang Lembut dan Jelas: Lafalkan shalawat dengan suara yang tidak terlalu keras namun jelas, sehingga kita dapat mendengar dan merasakan setiap lafalnya. Ini membantu menjaga konsentrasi dan kekhusyukan.
Waktu-Waktu Mustajab untuk Memperbanyak Shalawat
Beberapa waktu dalam sehari atau seminggu memiliki keutamaan tersendiri untuk memperbanyak shalawat. Memanfaatkan waktu-waktu istimewa ini dapat melipatgandakan pahala dan keberkahan yang diperoleh. Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan umatnya untuk memperbanyak shalawat pada momen-momen tertentu, menunjukkan betapa besar nilai ibadah ini.
- Hari Jumat: Hari Jumat adalah hari yang paling utama untuk memperbanyak shalawat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat, barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al-Baihaqi).
- Setelah Azan dan Sebelum Iqamah: Saat azan berkumandang, disunahkan untuk menjawabnya, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ sebelum berdoa. Doa yang dipanjatkan setelah bershalawat pada waktu ini sangat diharapkan untuk dikabulkan.
- Saat Tasyahud Akhir dalam Salat: Shalawat Ibrahimiyah yang dibaca pada tasyahud akhir salat merupakan rukun qauli (ucapan) yang wajib dalam mazhab Syafi’i dan sunah muakkadah dalam mazhab lain. Ini menunjukkan pentingnya shalawat dalam ibadah salat itu sendiri.
- Ketika Memasuki dan Keluar Masjid: Dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi ﷺ saat memasuki dan keluar dari masjid. Ini adalah bentuk penghormatan kepada rumah Allah dan Rasul-Nya.
- Sebelum dan Sesudah Berdoa: Mengawali dan mengakhiri doa dengan shalawat kepada Nabi ﷺ adalah salah satu adab berdoa yang diyakini dapat mempercepat terkabulnya doa. Shalawat berfungsi sebagai pengantar yang mulia untuk permohonan kita kepada Allah SWT.
- Ketika Nama Nabi ﷺ Disebutkan: Setiap kali nama Rasulullah ﷺ disebutkan, baik dalam percakapan, kajian, atau membaca, disunahkan untuk segera bershalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan terhadap perintah Allah.
Contoh Bacaan Shalawat dan Keutamaannya
Ada berbagai macam lafal shalawat yang diajarkan dalam syariat Islam, masing-masing memiliki keutamaan dan waktu penggunaannya. Memahami beberapa contoh shalawat yang populer dan sering diamalkan dapat membantu kita dalam memperkaya amalan harian. Salah satu shalawat yang paling utama adalah Shalawat Ibrahimiyah.Salah satu bacaan shalawat yang paling sempurna dan dianjurkan adalah Shalawat Ibrahimiyah, yang biasanya dibaca saat tasyahud akhir dalam salat:
“اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.”
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim.Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Shalawat ini memiliki keutamaan besar karena merupakan bagian dari rukun salat dan diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Membacanya di luar salat juga sangat dianjurkan, terutama pada hari Jumat, untuk meraih pahala yang berlipat ganda. Selain itu, ada pula shalawat-shalawat pendek yang mudah diamalkan dalam setiap kesempatan.Contoh shalawat pendek yang sering diamalkan dan memiliki keutamaan besar:
“اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ.”
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad.”
Atau yang lebih lengkap:
“صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ.”
Artinya: “Semoga shalawat Allah tercurah kepada Nabi Muhammad.”
Shalawat-shalawat ringkas ini dapat diamalkan kapan saja dan di mana saja, menjadi dzikir harian yang tak terputus. Keutamaan membaca shalawat, baik yang panjang maupun yang pendek, adalah mendapatkan balasan shalawat dari Allah SWT sebanyak sepuluh kali lipat, diangkat derajatnya, dihapus kesalahannya, dan mendapatkan syafaat dari Rasulullah ﷺ di hari kiamat.
Klarifikasi Kesalahpahaman dalam Bershalawat
Dalam praktik bershalawat, terkadang muncul beberapa kesalahpahaman yang perlu diluruskan agar amalan kita sesuai dengan tuntunan syariat dan tidak terjebak pada hal-hal yang tidak dianjurkan. Pemahaman yang benar berdasarkan riwayat-riwayat sahih akan membimbing umat dalam beribadah.
- Kewajiban Jumlah Tertentu: Tidak ada dalil sahih yang mengharuskan seseorang bershalawat dalam jumlah tertentu setiap hari atau pada waktu tertentu. Meskipun memperbanyak shalawat sangat dianjurkan, menetapkan jumlah tertentu sebagai kewajiban harian atau mingguan tanpa dasar syariat adalah kesalahpahaman. Yang terpenting adalah konsistensi dan kekhusyukan.
- Harus Bershalawat dengan Suara Keras atau Berjamaah: Bershalawat dapat dilakukan secara individu maupun berjamaah, dengan suara keras maupun lirih, selama tidak mengganggu orang lain atau terkesan riya’. Tidak ada kewajiban untuk selalu bershalawat dengan suara keras atau dalam bentuk koor berjamaah, kecuali dalam konteks tertentu seperti majelis ilmu atau acara keagamaan yang memang disepakati.
- Shalawat Tertentu Dianggap Bid’ah: Selama lafal shalawat tidak bertentangan dengan syariat, tidak mengandung kesyirikan, dan tidak diklaim sebagai bagian dari ritual wajib yang tidak ada dasarnya, maka shalawat tersebut diperbolehkan. Kesalahpahaman muncul ketika ada yang menganggap semua bentuk shalawat yang tidak persis sama dengan Shalawat Ibrahimiyah sebagai bid’ah. Padahal, inti shalawat adalah mendoakan Nabi ﷺ.
- Bershalawat Hanya untuk Acara Tertentu: Beberapa orang mungkin berpikir bahwa bershalawat hanya dilakukan pada acara-acara keagamaan besar atau peringatan tertentu. Padahal, bershalawat adalah amalan harian yang sangat dianjurkan kapan saja dan di mana saja, sebagai bentuk dzikir dan penghubung hati dengan Rasulullah ﷺ.
- Keyakinan Harus Melihat Nabi dalam Mimpi: Meskipun ada keutamaan bahwa orang yang banyak bershalawat bisa bermimpi bertemu Nabi ﷺ, ini bukanlah tujuan utama atau syarat mutlak diterimanya shalawat. Bershalawat harus dilandasi niat ibadah dan kecintaan, bukan semata-mata mengharapkan mimpi.
Ragam Redaksi Shalawat dan Sumber Riwayatnya

Berbicara tentang shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kita akan menemukan sebuah kekayaan redaksi yang luar biasa. Shalawat bukan sekadar ucapan penghormatan, melainkan juga doa dan pujian yang mengandung keberkahan. Keragaman redaksi ini menunjukkan luasnya pemahaman dan ekspresi cinta umat Islam kepada Rasulullah SAW, yang semuanya berakar pada perintah Al-Qur’an dan bimbingan Sunnah. Memahami berbagai bentuk shalawat dan dasar riwayatnya penting agar kita dapat mengamalkannya dengan penuh keyakinan dan kesadaran akan keutamaannya.
Anjuran membaca shalawat seringkali kita temukan dalam berbagai hadits Nabi Muhammad SAW, menunjukkan keutamaan amalan ini. Terkait pelaksanaannya, bahkan dalam ibadah penting seperti shalat Jumat, ada pembahasan khusus mengenai shalawat diantara dua khutbah yang menarik untuk dikaji. Jadi, memahami konteks dan dalil dari hadits tentang membaca shalawat memang sangat penting bagi setiap muslim.
Bentuk-Bentuk Shalawat Populer dan Dasar Riwayatnya, Hadits tentang membaca shalawat
Umat Islam di seluruh dunia mengenal berbagai bentuk redaksi shalawat, dari yang paling ringkas hingga yang lebih panjang dan mendalam. Setiap redaksi memiliki keunikan dan keutamaannya sendiri, namun yang terpenting adalah keberadaannya yang memiliki dasar riwayat yang kuat dalam ajaran Islam. Berikut adalah beberapa contoh redaksi shalawat yang populer, beserta sumber riwayat dan keutamaan yang melekat padanya.
| Nama Shalawat | Redaksi Singkat | Sumber Riwayat (jika ada) | Keutamaan Khusus (jika disebutkan) |
|---|---|---|---|
| Shalawat Ibrahimiyah | Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid. | HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i | Shalawat paling utama, diucapkan dalam tasyahud shalat. |
| Shalawat Ringkas | Allahumma shalli ‘ala Muhammad. | Dianjurkan secara umum dalam banyak hadits yang memerintahkan bershalawat. | Mendapatkan 10 rahmat dari Allah untuk setiap shalawat. |
| Shalawat Sayyidil Anbiya | Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa alihi wa shahbihi ajma’in. | Redaksi umum yang banyak digunakan ulama dan masyarakat. | Ungkapan cinta dan penghormatan yang menyeluruh kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabat. |
| Shalawat Al-Fatih | Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadil Fatihi lima ughliqa wal khatimi lima sabaqa wan nashiril haqqa bil haqqi wal hadi ila shirathikal mustaqim wa ‘ala alihi haqqa qadrihi wa miqdarihil ‘azhim. | Diwariskan oleh Syekh Ahmad At-Tijani. | Disebut memiliki keutamaan besar bagi pengamalnya. |
Berbagai redaksi shalawat ini menunjukkan bahwa esensi bershalawat adalah memohon rahmat dan pujian bagi Nabi Muhammad SAW, serta keberkahan bagi keluarga dan pengikutnya. Meskipun ada redaksi yang lebih populer dan memiliki dasar riwayat yang sangat kuat seperti Shalawat Ibrahimiyah, redaksi lain yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat juga diterima sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Makna dan Keutamaan Shalawat Ibrahimiyah
Di antara sekian banyak redaksi shalawat, Shalawat Ibrahimiyah menempati posisi yang sangat istimewa dalam praktik ibadah umat Islam. Shalawat ini bukan hanya dikenal luas, tetapi juga merupakan bagian integral dari rukun shalat, dibaca pada saat tasyahud akhir. Keistimewaan ini tidak terlepas dari makna mendalam yang terkandung di dalamnya serta latar belakang historis yang mengiringinya.Shalawat Ibrahimiyah adalah bentuk shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya ketika mereka bertanya tentang cara bershalawat kepada beliau.
Anjuran membaca shalawat seringkali ditemukan dalam berbagai hadits Nabi, menekankan keutamaannya. Misalnya, ada variasi khusus seperti shalawat shallallahu ala yasin yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Semua bentuk shalawat ini, sesuai petunjuk hadits, adalah wujud cinta kita kepada Rasulullah dan sarana meraih syafaat.
Redaksi ini merupakan jawaban Nabi SAW atas pertanyaan tersebut, yang kemudian diriwayatkan dalam banyak kitab hadits shahih seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Ini menjadikannya sebagai shalawat yang paling otentik dan memiliki dasar riwayat yang paling kuat.Redaksi Shalawat Ibrahimiyah adalah sebagai berikut:
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid.
Secara harfiah, shalawat ini berarti, “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”Makna dari Shalawat Ibrahimiyah ini sangatlah dalam. Ia tidak hanya memohon rahmat dan keberkahan bagi Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mengaitkannya dengan rahmat dan keberkahan yang telah dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim AS, yang merupakan bapak para nabi dan simbol ketauhidan. Ini menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang setara atau bahkan melebihi para nabi sebelumnya.
Keutamaan Shalawat Ibrahimiyah sangat besar, karena ia adalah shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi SAW dan menjadi bagian dari rukun shalat. Mengamalkannya berarti mengikuti sunnah Nabi secara langsung dan mendapatkan pahala yang besar, serta menjadi sebab diampuninya dosa dan diangkatnya derajat di sisi Allah SWT.
Membaca shalawat merupakan amalan mulia yang ditekankan dalam banyak hadits, menjanjikan syafaat dan pahala berlipat ganda. Dalam konteks mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat, penting juga untuk memperhatikan urusan duniawi terkait, seperti penanganan jenazah. Untuk kebutuhan tersebut, layanan terpercaya dapat diakses melalui kerandaku.co.id , yang memberikan solusi lengkap. Ini mengingatkan kita bahwa segala persiapan, baik spiritual maupun fisik, selaras dengan ajaran kebaikan dan keutamaan membaca shalawat.
Memilih dan Membedakan Redaksi Shalawat yang Sesuai Sunnah
Dengan banyaknya ragam redaksi shalawat yang beredar di masyarakat, umat Islam perlu memiliki panduan dalam memilih dan membedakan mana yang paling sesuai dengan ajaran Sunnah. Penting untuk mengutamakan keabsahan riwayat dan kesesuaian dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW agar amalan shalawat kita diterima dan memberikan manfaat maksimal. Proses pemilihan ini tidak bertujuan untuk meremehkan redaksi lain, melainkan untuk memastikan bahwa fondasi amalan kita kokoh.Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam memilih dan membedakan redaksi shalawat adalah sebagai berikut:
- Prioritaskan Shalawat Ma’tsurah: Utamakan shalawat yang redaksinya diriwayatkan langsung dari Nabi Muhammad SAW melalui hadits-hadits shahih, seperti Shalawat Ibrahimiyah. Ini adalah bentuk shalawat yang paling utama dan tidak diragukan keabsahannya.
- Periksa Sumber Riwayat: Jika menemukan redaksi shalawat yang tidak ma’tsurah (tidak diriwayatkan langsung dari Nabi), telusuri apakah redaksi tersebut berasal dari ulama salafus shalih atau para wali yang diakui keilmuan dan ketakwaannya. Perhatikan pula apakah ada klaim keutamaan yang berlebihan tanpa dasar yang jelas.
- Hindari Redaksi yang Mengandung Syirik atau Khurafat: Pastikan redaksi shalawat tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan tauhid atau menyerupai praktik khurafat. Shalawat adalah doa dan pujian kepada Nabi, bukan untuk meminta sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh Allah SWT.
- Pahami Makna dan Kandungan: Selalu berusaha memahami makna dari setiap redaksi shalawat yang diamalkan. Pemahaman yang baik akan meningkatkan kekhusyukan dan penghayatan dalam bershalawat, serta membantu mengidentifikasi jika ada makna yang meragukan.
- Konsultasi dengan Ulama: Jika ragu atau ingin mempelajari lebih lanjut tentang suatu redaksi shalawat, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan ulama atau ahli ilmu agama yang terpercaya. Mereka dapat memberikan bimbingan berdasarkan dalil dan pemahaman yang sahih.
Dengan memperhatikan poin-poin ini, umat Islam dapat mengamalkan shalawat dengan tenang dan yakin bahwa apa yang mereka baca sesuai dengan tuntunan syariat. Keberagaman redaksi shalawat adalah rahmat, asalkan kita tetap berpegang pada prinsip keabsahan dan kesesuaian dengan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Ringkasan Terakhir: Hadits Tentang Membaca Shalawat

Mengakhiri perjalanan kita dalam memahami hadits tentang membaca shalawat, jelaslah bahwa amalan ini adalah pilar penting dalam kehidupan seorang Muslim. Dari keutamaan yang menjanjikan syafaat dan ketenangan jiwa, adab yang mengharuskan kekhusyukan, hingga beragam redaksi yang memperkaya pilihan, shalawat adalah jembatan spiritual yang menghubungkan kita dengan Rasulullah ﷺ. Dengan konsisten mengamalkan shalawat dalam setiap sendi kehidupan, baik dalam suka maupun duka, seorang Muslim tidak hanya mengharapkan balasan di akhirat, tetapi juga merasakan dampak positif berupa kedamaian hati dan peningkatan keimanan di dunia.
Semoga kita semua termasuk golongan yang senantiasa melantunkan shalawat, meraih keberkahan, dan kelak mendapatkan syafaat dari kekasih Allah.
Panduan Pertanyaan dan Jawaban
Apakah harus berwudhu saat ingin membaca shalawat?
Untuk membaca shalawat secara umum di luar shalat, tidak disyaratkan harus berwudhu. Namun, berwudhu adalah adab yang baik dan dianjurkan untuk setiap ibadah agar lebih sempurna.
Adakah batasan jumlah shalawat yang dianjurkan untuk dibaca setiap hari?
Tidak ada batasan jumlah minimal atau maksimal yang ditetapkan secara syar’i untuk membaca shalawat setiap hari. Seorang Muslim dianjurkan untuk memperbanyaknya semampunya, semakin banyak semakin baik.
Bolehkah membaca shalawat saat sedang haid atau nifas?
Wanita yang sedang haid atau nifas diperbolehkan membaca shalawat. Ini termasuk dalam kategori dzikir lisan yang tidak terlarang bagi mereka, berbeda dengan membaca Al-Qur’an atau shalat.
Apakah membaca shalawat bisa dilakukan sambil beraktivitas lain?
Ya, membaca shalawat dapat dilakukan sambil beraktivitas lain seperti berjalan, bekerja, atau mengendarai kendaraan. Keutamaan shalawat tetap didapatkan meskipun tidak dalam kondisi fokus penuh, asalkan tetap menjaga niat dan kekhusyukan sebisa mungkin.



